Seberapa Penting Kejuaraan Sesuai Kelompok Umur?
Arifin
Tim sepak bola di wilayah Asia Tenggara baru saja merampungkan Piala AFF U-23 di Thailand. Tim Malaysia menempati peringkat keempat, usai kalah dari sang tuan rumah pada perebutan peringkat ketiga lewat drama adu penalti. Pada waktu normal kedua tim bermain imbang 0-0.
Adu penalti terjadi pula di partai final yang mempertemukan Vietnam dengan Indonesia. Vietnam menjuarai Piala AFF U-23 setelah mengalahkan Indonesia lewat babak adu penalti 6-5 (0-0).
Piala AFF U-23 dapat menjadi parameter regenerasi, kejuaraan berjenjang sesuai kelompok umur. Dalam sepak bola serta olahraga, kejuaraan, kompetisi kelompok umur dibutuhkan untuk menempa para atlet usia muda. Apa jadinya jika para atlet hanya berlatih dan berlatih, tanpa ada kejuaraan ataupun kompetisi yang menguji latihan mereka?
Dengan adanya kejuaraan ataupun kompetisi sesuai kelompok umur, juga dapat menjadi sinyal regenerasi, serta pembibitan pemain andalan untuk masa mendatang. Beberapa pemain yang kilaunya cemerlang di usia masih begitu belia, bahkan dapat direkrut, dimainkan di jenjang senior. Meski begitu, perlakuan terhadap pemain belia ini harus disertai kehati-hatian pula, agar tidak layu sebelum berkembang.
Di samping itu alur dari para pemain muda ini perlu disimak. Adakah kompetisi di level senior memberikan waktu bermain, kesempatan, bagi para talenta muda ini. Dikarenakan ada beberapa pemain yang cukup bagus di kelompok umur muda, namun kemudian “menghilang” di level senior. Usut punya usut, ternyata salah satu penyebabnya, minimnya menit bermain, serta tidak dipercaya untuk dimainkan di level kompetisi senior oleh klub.
Sukses di kelompok umur juga tak serta merta menjadi kampiun di level senior. Seperti Portugal yang pada 1989 dan 1991, sukses menjuarai Piala Dunia U-20 dengan pemain-pemain seperti Fernando Couto, Joao Pinto, Luis Figo, dan Manuel Rui Costa. Namun, generasi emas tersebut, tak merengkuh satu pun trofi mayor di level senior. Prestasi terbaik Figo CS yakni mencapai final Piala Eropa 2004.
Masih dari kelompok umur tertentu, di klub sepak bola, salah satu yang tersohor yakni class of ‘92 di Manchester United (MU). Terdapat deretan nama berikut yang turut berperan mengantarkan MU meraih FA Youth Cup di tahun 1992, yakni David Beckham, Nicky Butt, Ryan Giggs, Gary Neville, Phil Neville, Paul Scholes. Keenam sosok tersebut, untuk kemudian melanjutkan kebersamaan mereka di level senior dengan turut mengantarkan MU menjadi treble winners di musim 1998-99 dengan menjadi kampiun di Liga Inggris, Piala FA, dan Liga Champions.