Tak Terkatakan Dalam Kata
Arifin
Diamnya adalah ceritanya
Dari raut wajahnya itulah gelombang emosinya
Tak terkatakan dalam kata
Ia mengingat masa-masa dulu
Tempat riuh rendah semua penampang emosi terceritakan
Marah, dibelai rambutnya
Sedih, ditenangkan dengan pelukan
Kecewa, seutas senyum hangat diulurkan
Orang itu, tempatnya menumpahkan rona perasaan telah tiada
Lalu langit yang tinggi pun seakan menyusut jaraknya
Bak terdampar di planet bernama bumi
Planet yang menjadi sunyi lagi dingin
Kemana tempat mengadu?
Isak tangis diam-diam di malam temaram
Kepada-Mu duka disampaikan
Namun, jiwa yang rapuh mengeluh, manusia adalah makhluk bercerita
Ia kehilangan tambatan, jangkar untuk melarung racun pikiran & kata-kata
Ia mengistirahatkan kata-kata keluhnya kepada sesama
Diamnya, raut wajahnya yang berbicara
Kepada-Mu kata-kata luka & duka dilayarkan