Belajar Sastra Langsung Dari “Sumbernya”
Arifin
Aktris Dian Sastro belum lama ini mengunggah di akun Instagramnya mengenai guru bahasa Indonesia di masanya bersekolah. Terdapat Pak Mayan, yang menurutnya membuatnya menjadi suka baca dan menyadari bahwa karya sastra Indonesia itu banyak banget yang keren selain Chairil Anwar.
“Kita jadi kenal sama judul-judul seperti Burung-Burung Manyar, Kunang-Kunang Di Manhattan, Pelajaran Mengarang, Hujan Bulan Juni, dan masih banyak lagi,” kenang pemeran Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta? perihal gurunya di SMA Tarakanita I.
Dian juga berterima kasih pada pak Valen guru bahasa Indonesia di SMP-nya yang membuatnya tertarik membaca lebih banyak karya sastra Indonesia. “Kami beruntung, karena dapet guru bahasa Indonesia yang keren, dan asik,” testimoni Dian Sastro.
Hal senada dialami oleh penulis, komika, sutradara Raditya Dika. Ia memiliki impresi positif dengan pelajaran bahasa Indonesia ketika bersekolah di SMAN 70 Jakarta.
“Suka diajakin gue, kalau mau lihat sastrawan tampil. Nanti kita ke TIM (Taman Ismail Marzuki) sama guru, sama beberapa siswa juga. Abis itu kita dengerin sastrawan baca puisinya mereka gitu,” ujar Raditya Dika kala berkeliling ke SMA-nya bersama Jerome Polin.
“Pulang ke sini, kita disuruh nyobain baca puisi yang tadi kita dengerin. Makanya gue suka banget belajar bahasa Indonesia,” sambung Raditya Dika.
Belajar dari “sumbernya”, dari ahlinya juga didapatkan oleh penyair Joko Pinurbo. Menurut penulis buku puisi Perjamuan Khong Guan, dirinya turut terpengaruh puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.
“Setiap orang yang belajar menulis sastra atau khususnya penulis puisi, pasti dia akan mencari atau akan menemukan pengarang-pengarang tertentu yang akan menjadi modelnya. Itu pasti. Pengarang yang menjadi modelnya itu mungkin karena ada chemistry itu tadi, wah gayanya cocok dengan kepribadian,” tutur sosok yang akrab dipanggil Jokpin pada event Ketemu Buku.
Menurut hemat saya, belajar sastra dapat lebih meresap, mengena, menyenangkan, aplikatif, bila langsung dari “sumbernya”, seperti tertera pada contoh-contoh kasus di atas. Bagaimana dengan Anda, tertarik untuk belajar sastra langsung dari “sumbernya”?