Pentingnya Riset Dalam Menulis Cerita Apa Pun
Arifin
Rencana Besar, sebuah TV Mini Series mendapatkan kritik dari penulis yang juga banker Ika Natassa. Inti dari kritiknya yakni kurangnya riset dalam penulisan skenarionya. Berbagai kritik dilontarkan penulis novel The Architecture of Love ini, seperti logika dasar tentang operasional bank, aset dari bank UBI, proses menggelontorkan kredit, dan sebagainya.
Ika melalui akun media sosialnya menyoroti perlunya riset yang mumpuni untuk cerita. “Jangan bikin asal-asalan, selalu asumsikan penonton pintar,” sarannya.
Lalu, bila cerita yang dibuat berlatar fiksi, apakah perlu riset yang mumpuni pula? Perlu kiranya untuk melihat sampel novel Jurassic Park karya Michael Crichton. Michael melakukan riset soal DNA dari satu universitas ke universitas lainnya. Untuk riset soal dinosaurus, Michael berguru ke ahli paleontologi ternama di Amerika Jack Horner.
Perlu diketahui dalam storytelling terdapat suspension of disbelief, batas logika bisa ‘dibengkokkan’ dan diterima. Sebagai pencerita, dalam genre apa pun, selalu ada logika dasar yang harus dipenuhi. Maka di situlah peran penting riset, untuk memenuhi logika dasar tersebut.
Dalam melakukan riset, sang pembuat cerita dapat turut serta “mencicipi” apa yang dilakukan karakter pada ceritanya. Misalnya Dewi Lestari, untuk kepentingan risetnya mengikuti kursus membuat parfum. Pada novel Aroma Karsa, tokoh utamanya Jati Wesi merupakan peracik parfum.
Contoh lainnya yakni Ayu Utami pada novel Bilangan Fu, tokoh utamanya adalah pemanjat terbing. “Akhirnya, untuk mendalami tokoh ini, saya ikut panjat tebing,” ujarnya seperti dilansir Majalah Tempo.
Riset yang baik juga membuat cerita begitu nyata dan dipercaya orang lainnya. Bila terdapat kritik terhadap adegan medis di sinetron, hal tersebut dapat berakar dari kurangnya riset serta tidak terpenuhinya logika dasar. Di sisi lain, bila riset telah mumpuni, maka guliran cerita pun dapat menyelami istilah-istilah kedokteran, diksi yang kerap dipakai, ataupun hal unik di ranah kedokteran yang sekiranya kompatibel dengan kebutuhan cerita. Dengan begitu profesi medis tak sekadar dilekatkan saja, melainkan telah terpenuhi logika dasarnya.