Carian
Kita Adalah Manusia Yang Bercerita 
October 23, 2023 Arifin

Kita adalah homo narrans, manusia yang bercerita. Tak percaya? Lihat saja nenek moyang manusia yang bercerita melalui lukisan di dinding gua. Bercerita, bahkan ketika aksara belum ditemukan seperti yang kita kenal sekarang.

Bercerita, simaklah pada relief di candi. Ya, pada berbagai bangunan cagar budaya, kuno, arkais, jika direka ulang terdapat kisah manusia yang bercerita.

Manusia yang bercerita, hal tersebut tak terhalang, walau terdapat gangguan di organ tertentu seperti misalnya bagi tunarungu. Terdapat bahasa isyarat yang dapat menjadi medium bagi tunarungu untuk mewartakan cerita – apa yang ada di pikirannya serta apa yang dirasakannya.

Bercerita memang sungguh dapat dilakukan tanpa kata-kata. Simaklah film bisu yang mengawali kehadiran film-film yang kini dapat dinikmati dengan “all around you” di bioskop pada era sekarang.

Bercerita memang sungguh dapat dilakukan tanpa kata-kata. Seperti apa yang dilakukan pantomim – pertunjukan drama tanpa kata-kata yang dimainkan dengan gerak dan ekspresi wajah (biasanya diiringi musik).

Bercerita memang kebutuhan manusia. Jika sejenak mengambil lini masa ke pandemi Covid-19 dengan sejumlah pembatasan yang dilakukan, salah satu hal yang dirindukan saat itu yakni kesempatan bercerita. Temu muka yang terbatas dan menjadi rumit. Padahal kiranya pertemuan tatap muka merupakan wahana untuk bercerita dengan menggunakan seluruh bahasa tubuh.

Bercerita memang kebutuhan. Maka dikenal juga “Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul” (“makan tidak makan yang penting berkumpul”). Hal yang kiranya menjelaskan spirit berkumpul sembari bercerita.

Bercerita memang kebutuhan. Maka hal tersebut dapat berkorelasi dengan kesehatan mental. Maka dikenal konsep menulis, melukis sebagai healing. Dimana menulis serta melukis menjadi wahana untuk bercerita.

Komen