Carian
‘Dipuji Tidak Terbang, Dicaci Tidak Tumbang’ Ala Sepak Bola 
October 25, 2023 Arifin

Mengapa sepak bola menarik? Tak sekadar kiprah persaingan untuk menjadi pemenang, namun banyak elemen kehidupan yang dapat dipetik. Di antaranya “dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang”.

Pada frasa “dipuji tidak terbang”, iklan dari Adidas perihal sepatu Toni Kroos 11 Pro bisa jadi rujukan. Bagaimana Kroos tak cepat berpuas dengan raihan gelar, melainkan senantiasa lapar akan gelar. Maka lima trofi Liga Champions sepanjang karier pemain asal Jerman tersebut menjadi bukti.

Menjadi pemenang secara berkelanjutan seperti Kroos tentu tak mudah. Pujian akan mengalir bagi pemenang. Pujian yang dapat melenakan. Pujian yang membuat “rasa lapar” akan juara berkurang. Namun, dalam hal ini Kroos menunjukkan dirinya yang tetap fokus serta mampu mengatasi “pesona pujian”.

Sedangkan pada frasa “dicaci tidak tumbang”, dapat disimak pada ‘BECKHAM’ Documentary Series yang tayang di Netflix. Bagaimana cacian tertuju kepadanya karena dianggap sebagai biang kerok tersingkirnya Inggris di Piala Dunia 1998. Kartu merah yang didapatkan Beckham, dianggap menjadi penyebab tersingkirnya Inggris dalam laga menghadapi Argentina di babak 16 besar.

Di Liga Inggris, cacian tertuju pada laga-laga yang dimainkan Beckham kala berseragam Manchester United. Tak tumbangnya Beckham karena cacian tersebut, menunjukkan kekuatan mental, fokus dari pemain yang identik dengan nomor  7 ini.

Cacian pun dapat dimitigasi dengan support system yang membantu. Seperti kapten Setan Merah Roy Keane yang siap pasang badan ketika intimidasi dilakukan terhadap Beckham.

Frasa “dicaci tidak tumbang” juga mewujud pada laga Liga Champions baru-baru ini. Adalah Harry Maguire dan Andre Onana, paling tidak pada partai tersebut membuktikannya. Maguire dan Onana menjadi sasaran cacian, bully, serta “kambing hitam” sebelumnya. Hal tersebut tak terlepas dari blunder yang dilakukan oleh kedua pemain tersebut.

Maguire memiliki rekam jejak blunder dalam beberapa tahun belakangan, mulai dari gol bunuh diri, umpan yang salah berujung timnya kegolan. Sedangkan Onana yang datang sebagai pengganti David de Gea, di awal musim ini malah menunjukkan blunder-blunder konyol.

Nyatanya kedua pemain tersebut kini sedang merangkaki keadaan untuk mengubah peruntungan dan “wajahnya” kala berseragam Setan Merah. Maguire pada beberapa partai terakhir tampil solid. Pun begitu dengan Onana yang melakukan beberapa penyelamatan, plus tak ada blunder aneh.

Momen keduanya didapatkan pada laga menghadapi FC Copenhagen di Old Trafford. Maguire mencetak gol pembeda laga pada menit ke-72 melalui sundulan kepalanya. Sedangkan Onana menjadi pahlawan dengan menggagalkan penalti dari Jordan Larsson tepat di akhir pertandingan.

Komen