Berlatih ‘Storytelling’ Dari Yang Terdekat
Arifin
Apakah Anda ingin tahu sejauhmana cerita yang akan diwartakan sampai? Anda dapat mencobanya pada lingkup terdekat, yang Anda anggap paling aman. Bisa di lingkup keluarga ataupun teman-teman terdekat.
Hal tersebut di antaranya ditunjukkan oleh komika Raditya Dika yang gemar bercerita. Lalu ketika mendapat respons positif dari pendengarnya (baik di lingkup pertemanan ataupun istrinya), Raditya tersadarkan bahwa itu adalah materi awal yang menarik untuk stand up-nya.
Hal yang setipe dengan itu dapat Anda duplikasi. Storytelling – merupakan hal yang dibutuhkan bagi berbagai profesi, ataupun seseorang dari lintas umur. Maka untuk mengetahui sejauhmana storytelling itu dapat mengena, maka cobalah untuk menceritakan cerita tersebut.
Dengan menceritakannya, maka Anda akan mendapatkan feedback, di titik mana misalnya yang grrr, kurang mendapat respons, kurang jelas, sudah baik, dan sebagainya. Storytelling – baik itu dalam lingkup pekerjaan ataupun dalam lingkup bersekolah, senantiasa dilakukan. Maka asah-asahlah hal tersebut, dari lingkar terdekat yang Anda anggap aman – mungkin keluarga ataupun teman-teman dekat.
Mengenai keterampilan bercerita, dari hal-hal yang sederhana sesungguhnya dapat dilatih dan diupayakan. Misalnya ketika makan bersama dengan keluarga di meja makan, ketika sedang nongkrong berkumpul bersama teman. Hal yang informal, santai, namun sesungguhnya dapat menjadi jam terbang, serta mengetes storytelling yang dimiliki.
Pun begitu dengan storytelling yang disampaikan dalam bentuk literasi. Cobalah minta saran dari lingkup terdekat, dimana kurangnya, apa yang perlu diperbaiki, dan sebagainya. Dengan memiliki “mata” lainnya, seseorang dapat mengambil jarak dari ceritanya, serta melihat perspektif pembaca.