Carian
Mengapa Cerita Horor Diminati? 
November 1, 2023 Arifin

Akhir pekan kemarin di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan terdapat perlombaan kostum Halloween. Pesertanya adalah anak-anak. Maka tak pelak dari satu peserta, rombongannya banyak. Dikarenakan sang anak tak sendirian. Untuk ikut lomba tersebut, ada peran orang tua, bahkan keluarga besar yang ikut menonton ataupun membantu persiapan.

Perkara horor – baik itu terkait momentum tertentu (seperti Halloween), maupun dalam relasi keseharian memang kerap diperbincangkan. Kisah seram, menakut-nakuti, teramat mungkin dihadirkan sebagai bagian untuk mencegah anak melakukan sesuatu hal, misalnya keluar rumah malam-malam.

Kisah horor juga dapat menjadi temali yang dapat menjadi bahan obrolan. Bisa dari pengalaman pribadi lalu diceritakan di keluarga ataupun lingkungan persahabatan. Obrolan horor bisa sambung menyambung, serta merasa kisahnya lebih horor dibandingkan yang sebelumnya diceritakan.

Lantas mengapa cerita horor begitu menarik perhatian khalayak? Cerita horor dapat memicu adrenalin – di antaranya melalui jump scare, adegan mencekam serta tak terduga. Lalu, dikutip dari laman Flavorwire (2020), menonton film horor terbukti membuat tubuh mengeluarkan hormon endorfin, adrenalin, dopamin, serotonin, dan oksitosin, yang menghadirkan gairah menyenangkan, bersemangat, dan merasa sukacita setelah menyelesaikan cerita horor.

Sementara itu, persepsi tentang yang horor, lazim dilekatkan dengan hantu. Persepsi hantu yang menyeramkan pun coba dibongkar, di antaranya pada Ghostival yang dihelat beberapa bulan lalu. Ghostival merupakan sebuah pameran seni yang memvisualkan hantu Indonesia menjadi suatu karakter lucu dan tidak menyeramkan.

Terdapat 11 karakter hantu yang disertakan di Ghostival, di antaranya ada Ocong (pocong), Unti (kuntilanak), Uwo (genderuwo), Uyang (kuyang), dan Banas (banaspati). Mereka semua ditampilkan dengan visual lucu serta sebisa mungkin jauh dari kata menyeramkan.

Komen