Carian
Mendongengkan Buku Anak 
November 27, 2023 Arifin

Menghadiri Festival Dongeng Internasional Indonesia 2023, pengondisian merupakan hal awal. Menerangkan seseru apa sih Festival Dongeng tersebut. Terdapat beberapa “magnet” yang menarik perhatian anak kami, yakni puppet show DOMIKADO (ya, anak kami penggemar garis keras serial edutainment tersebut) serta sebuah buku bertemakan orang-orangan sawah.

Melalui akun media sosial sebelumnya, kami telah memantau perihal aktivitas dan sejumlah barang yang dijual di festival dongeng tersebut. Salah satunya adalah buku-buku anak. Benar saja begitu sampai di tempat lokasi (Perpustakaan Nasional), anak kami berbisik tentang buku orang-orangan sawah.

‘Gayung bersambut’, kami pun menuju ke lantai 4, dimana terdapat dua stan yang menjual buku-buku anak. Buku berjudul Aku si Penjaga Sawah pun dipilih. Buku tersebut sendiri menarik adanya untuk mengingatkan tentang budaya agraris, serta proses penanaman sebelum nasi terhidang di meja makan. Bagaimana padi ditanam di sawah, dengan tandur (tanam padi sambil mundur), serta informasi bahwa sejak sawah dibajak sampai padi dipanen dan ditumbuk sehingga menjadi beras, petani membutuhkan waktu sekitar 100-130 hari.

Bergeser sedikit ke stan sebelahnya terdapat Patjarmerah Kecil. Tertarik secara visual, anak kami melihat tentang buku yang mengisahkan botol. Boti, si botol merah, sudah lama tinggal di dalam toko swalayan. Suatu hari, ia keluar toko dan hanyut di sungai. Akan ke mana Boti? Demikian adanya ringkas singkat buku bertajuk Akan ke Mana Boti?

Buku karya penulis Watiek Ideo dengan ilustrator Novita Elisa tersebut menurut hemat saya menarik. Baik secara tampilan visual, jalan cerita, serta pesan peduli terhadap lingkungan hidup yang dikemas dengan rapi.

Di stan Patjarmerah Kecil, penjaga buku di situ, mendongengkan cerita tentang buku lainnya juga. Dik Buto Makan Rembulan – kisah tentang raksasa yang kelaparan, anak kecil dengan bukunya, dan rembulan yang… hap!. Terdengar familiar? Namun, dalam versi buku tersebut, Dik Buto digambarkan sebagai raksasa berwarna biru yang begitu menggemaskan, detail gambar dalam buku tersebut begitu ciamik, seperti misalnya rembulan (martabak) yang begitu legit digambarkan. Angkat topi untuk ilustratornya Matto Haq. Untuk urusan ceritanya pun, mampu dikemas menjadi dikenal namun segar dan baru. Angkat topi untuk penulisnya Zulfa Adiputri.

Menceritakan bak mendongeng yang dilakukan penjaga buku di stan Patjarmerah Kecil, mungkin telah menjadi warna, karakter, kekhasan. Saya pun teringat kreator digital Wahyu Novianto ketika berkesempatan menjadi penjaga buku di pasar buku patjarmerah. Bagaimana sensasi perasaan yang dirasakannya saat mengajak mengobrol para pengunjung.

“Berbeda dengan kudapan yang lebih mudah terbayang rasanya atau baju yang bisa kamu lihat modelnya, buku tidak bisa hanya dipajang begitu saja. Dengan dibicarakan, orang jadi tahu, bisa terhubung dengan jenis buku yang biasa disuka, atau malah jadi mencoba hal-hal baru,” tutur Wahyu di akun Instagram-nya @awaywithbooks.

Ya, karena sejatinya buku memang harus diceritakan. Seperti dongeng-dongeng yang memiliki teritori keseruan lainnya saat dibaca secara nyaring (read aloud).

Komen