Terkadang Memang Tak Ada Cara Mudah
Arifin
Instan, super easy – bisa jadi hal-hal tersebut ditemui dalam aneka pelatihan keterampilan yang bertebaran. Namun, ada baiknya untuk skeptis juga dengan aneka jargon tersebut. Berdasarkan pengalaman saya, dari para pemateri yang kompeten, akan diungkap pula kerumitan, serta kesulitan untuk menjadi ahli di keterampilan tertentu.
Dari beberapa pelatihan yang diikuti, sepengengalaman saya, dari pemateri yang berisi “daging”, nampak benderang bahwa diperlukan pengasahan keterampilan terus-menerus. Semakin dalam pembedahan materi makin ditemui tingkat kerumitan serta perlunya “jam terbang” untuk melatih keterampilan.
Meski begitu, segala keterampilan yang ingin dipelajari dan dikerjakan, hendaknya mulai diaplikasikan. Dari ilmu yang telah ada, cobalah terapkan. Entah itu keterampilan menggambar, menulis, bermusik, membuat konten media sosial, dan sebagainya – segala bekal ilmu yang didapat dari pelatihan, mentoring, hendaknya diwujudkan menjadi sesuatu.
Dengan begitu diri akan tahu telah sejauhmana. Aneka macam ilmu tersebut hendaknya menjadi pergerakan, aksi. Toh segala sesuatunya dapat pula dipelajari, dilengkapi kemudian, sambil berjalan.
Bila dianalogikan dengan kehidupan, dimana ada musim menanam, musim merawat, dan musim memetik. Segala asah keterampilan itu merupakan musim menanam serta musim merawat. Bersama waktu, tenaga, pikiran, diri dapat tertempa, terlatih pada musim menanam dan musim merawat.
Untuk tiba di musim memetik, memerlukan musim menanam dan merawat tersebut. Maka itulah kiranya yang dapat menjadi pembeda dari orang tertentu ke yang lainnya. Bersama keterampilan yang terasah, ada resiliensi, upaya terus-menerus.