Si Pembuat Jam
Arifin
Si pembuat jam sedang bertekun
Ini adalah seni murni sekaligus kerja mekanis
Yang tak meleset
Diuji berkali-kali
Di ruang hampa
& “laboratorium hidup”
Tersenyum ia
Melihat karyanya ada di tangan-tangan manusia
Melilit dengan indahnya
Setiap karya adalah jiwanya
Maka, tak ada yang persis sama
Unik
Senangnya dalam hati
Karyanya adalah teman keseharian para pengguna
Yang pertama dilihat ketika bangun pagi
Yang terakhir dilihat menjelang tidur
Penanda waktu untuk ragam aktivitas
Waktunya makan
Waktunya bergeser tempat
Waktunya istirahat sejenak
Ia pun merasa hangat
Ketika jamnya tak dilirik dengan kerap
Itulah waktu yang tak perlu dihitung dengan akurat karena bersama orang-orang tercinta
Hanya ingin lagi & lagi
Hingga rona langit yang berubah menjadi penanda
Atau orang-orang itu, yang sebentar-sebentar melongok arlojimu
Ini waktu-waktu yang membosankan
Mengapa seperti merangkak gerak jarum jam
Orang-orang yang tergesa, berharap bisa melambatkan, mencepatkan waktu semaunya, sekehendaknya
Atau orang-orang yang tak peduli lagi dengan waktu
Arlojimu tak menyentuh jiwa-jiwa mereka