Carian
Karya Yang Sempurna Dan Menunda 
January 2, 2024 Arifin

Adakah Anda berusaha untuk memastikan segalanya sempurna? Pada beberapa hal, kasus, kesempurnaan itu dapat sejalur dengan penundaan.

Menarik adanya apa yang diungkap oleh wikipediawan Ivan Lanin, “Dahulu saya berusaha menggali setiap aspek ide dalam satu tulisan sebelum tulisan itu dianggap sempurna. Sekarang saya mencoba realistis membuat tulisan berdasarkan target waktu penulisan. Saya percaya bahwa tulisan tidak sempurna yang selesai lebih baik daripada tulisan sempurna yang tidak kunjung rampung.”

Apakah hal semacam itu juga yang Anda alami? Mengenai karya yang “sempurna” namun tidak kunjung rampung? Memang untuk mengejar kesempurnaan, karya yang baik, pada beberapa contoh lain dapat menempuh waktu pengerjaan yang lama – contohnya ada di film, novel, dan sebagainya.

Namun, perlu juga untuk becermin, mengevaluasi, apakah berguna untuk sempurna dengan waktu yang sedemikian panjang itu atau lebih baik merampungkannya saja dan memublikasikannya?

Parameter lainnya yang juga dapat digunakan untuk membatasi adalah dengan tenggat. Batasi obsesi sempurna itu dengan memberikan tenggat. Secara spesifik berikan tenggat bahwa suatu karya telah selesai.

Perlu juga ditelaah, untuk menghasilkan karya telah sekian energi dan waktu yang dihabiskan, apakah worth it untuk menunda lagi? Bisa jadi penundaan itu karena terlalu overthinking. Padahal kiranya segala sesuatu dapat disempurnakan kemudian. Ataupun image, personal branding, citra, dapat muncul setelah karya terus-menerus dari diri.

Menunda juga pada sisi lain dapat dilihat sebagai momentum yang terlewat. Sementara pihak lain, berkarya dan mengujinya di publik, Anda masih berkutat di “dapur karya” serta tak kunjung merilis karya. Berkarya dan merilisnya, sesungguhnya juga merupakan upaya menuju perbaikan. Seperti misalnya berkarya yang dipublikasikan di media sosial. Seiring dengan frekuensi pengerjaan, feedback dari warganet, maka perbaikan karya dapat terus-menerus dilakukan.

Komen