Apa Yang Dapat Dipelajari Dari Gempa Di Jepang?

January 3, 2024
Uncategorized

Arifin

Gempa serta tsunami melanda daerah di Jepang seperti ramai diberitakan. Besarnya skala gempa serta terjadinya tsunami mengapungkan kembali bahwa diperlukan mitigasi risiko bencana. Pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana alam, hendaknya melekat pada setiap orang, sebagai mitigasi risiko.

Ketika gempa bumi terjadi, jangan panik. Waspadalah terhadap gempa susulan, tsunami, longsor, kebakaran. Lantas apa saja mitigasi risiko yang dapat dilakukan bila terjadi gempa?

Jika Anda berada di dalam ruangan, lakukan hal berikut:

·         Segera keluar dari ruangan

·         Berlindung di bawah meja yang kuat. Lindungi pula kepala Anda dengan tangan

·         Menjauh dari benda yang mudah jatuh dan pecah

·         Jangan menggunakan lift, gunakan jalur evakuasi

Jika Anda berada di luar ruangan, lakukan hal berikut:

·         Menjauh dari bangunan, tiang listrik, pohon, papan reklame, terowongan atau jembatan

·         Bila di gunung, menjauh dari jurang dan lereng

·         Bila di pantai menjauh dari laut, terutama jika air laut surut tiba-tiba

Tips lainnya yakni jika gempa telah selesai, segera evakuasi diri ke jalur yang aman. Berkumpullah di tempat aman, serta waspada terhadap kemungkinan datang gempa susulan.

Anda pun dapat meminta bantuan dengan menghubungi pihak berwenang. Pantau juga informasi dari radio, televisi, atau internet.

Masih terkait bencana, pemahaman siap siaga terhadap bencana perlu dilakukan, baik itu oleh orang dewasa serta anak-anak. Ayah-bunda, dapat mengedukasi anak untuk tanggap dan tahu langkah apa yang dilakukan jika terjadi bencana.

Apabila terjadi bencana, di saat kedua orang tua bekerja dan anak-anak berada di rumah, tentunya anak-anak perlu mengetahui mengenai apa saja yang harus diselamatkan (misalnya dokumen-dokumen penting), dimana letak perlengkapan siap siaga (misalnya senter, peluit, kotak P3K), serta kemana sebaiknya evakuasi (apakah rumah kerabat terdekat, lapangan terdekat, pos pengungsian, atau lainnya).

Siap siaga bencana pun dapat “dilatih” baik itu dengan alat permainan edukasi yang seru dan menyenangkan, ataupun melalui simulasi.

Simulasi siaga bencana, di antaranya dapat dilakukan dengan melakukan simulasi gempa bumi. Ajari anak dengan gerakan melalui simulasi tersebut, jika di dalam ruangan, bisa dengan mencari meja yang kuat untuk berlindung. Berpegangan terus ke meja hingga guncangan berhenti. Simulasi juga dapat menyertakan agar jangan berada di dekat benda yang mungkin jatuh atau pecah, seperti lampu gantung, lemari, atau jendela.

Masih terkait bencana, kali ini perihal mitigasi bencana gempa dan tsunami di Jepang yang diungkap oleh pemengaruh Amel melalui media sosialnya (@ameliamuriza_). Amel yang juga merupakan dokter gigi serta penulis ini membagikan pengetahuannya tentang mitigasi bencana di Negeri Matahari Terbit tersebut.

Di Jepang, edukasi tentang kebencanaan adalah wajib sejak masa pendidikan usia dini. Kelas kebencanaan di sekolah rutin setiap bulan. Dalam setahun terdapat beberapa simulasi bencana dan sistem koordinasi dengan para orang tua, termasuk mekanisme penjemputan anak di sekolah.

Simulasi kebencanaan juga menjadi kegiatan rutin di lingkup lingkungan tempat tinggal. Dengan begitu masyarakat telah mengerti respons terhadap tanda akan terjadi bencana. Di Jepang telah ada sistem, serta perkiraan dan arahan yang jelas.

Sesaat sebelum gempa, ada alarm yang otomatis berbunyi “Earthquake”. Terdapat pula notifikasi pada ponsel sesaat sebelum gempa. Kemudian notifikasi lanjutan di ponsel bila gempa tersebut berpotensi tsunami.

Biasanya jika gempa kuat dan diperkirakan akan terjadi tsunami, maka masyarakat diarahkan mengungsi ke tempat evakuasi yang telah ditetapkan. Biasanya gedung sekolah atau universitas, yang memang gedungnya sudah dirancang dapat menjadi tempat evakuasi saat terjadi bencana.

Sumber: BPBD DKI Jakarta, PMI

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd