Kanvas Setengah Terisi
Arifin
Kanvas itu masih kosong
Sejak pagi hingga sore
Melompong
Buntu di pikiran
Ada apa?
Aneka cara telah ku tempuh untuk memantik ‘nyala ide’
Tidur
Minum kopi
Makan
Melihat lukisan-lukisanku sebelumnya
Berjalan kaki
Mendengarkan air mengalir
Di hadapan kanvas, sore itu
Krik…krik…krik…
Aku menyerah hari itu
Di malam, pikiran bertanya-tanya ada apa gerangan
Mata terjaga hingga dini hari
Pagi muncul lagi
Kantuk masih lekat
Jarum jam yang berdetak
Warna langit yang berubah
Kanvas itu masih berkeras untuk diam
Aku tidur cepat malam itu
Keesokannya, aku melancong
Berupaya tak merisaukan tentang hari-hari yang lepas tanpa melukis
Berjalan kaki, mendengarkan dengan saksama, apa saja
Obrolan manusia, obrolan alam
Melihat alam & manusia, melihat saja
Tiba di petang, pulang kembali
Keesokannya: kuas, cat, kanvas
Pernahkah kau merasakan ketakutan semacam ini?
Tak dapat lagi berkarya?
Diri yang bak cangkang kosong
Takut itu,
Cat dan kuas memulai guratnya di kanvas
Tak perlu sempurna untuk memulai
Adakah karya digerakkan oleh harap & cemas?
Di sisi koin cemas, karya ini dimulai
Bersama waktu yang merangkak, lukisanku mulai mewujud
Tak seperti gayaku yang ku kenal
Tak mengapa
Di sisi koin harap, aku dapat berkata, “Aku masih dapat berkarya”