Carian
Mengenang Mesin Tik 
January 24, 2024 Arifin

Tulisan bertajuk “Obituari Mesin Tik Tua Pembuka Cerita” memantik perhatian saya. dalam lead tulisannya diungkap – Dalam dunia digital, tak perlu cabut kertas lalu ”dibejek-bejek” karena sebuah kesalahan, tinggal ”delete”. Penulisnya merupakan jurnalis Kompas selama lebih dari dua dekade, yang juga seorang sutradara dan penyair, Putu Fajar Arcana.

Spot yang menarik dalam tulisan tersebut menurut hemat saya di antaranya mengenai ragam alat yang digunakan dalam menulis. Terdapat mesin tik, desktop, laptop, gawai. Menarik adanya bagian paragraf berikut yang saya kutipkan:

Aku mungkin salah satu dari sedikit penulis yang berhasil mentransformasi kebiasaan. Meski pada awalnya tertatih-tatih, peralihan dari kebiasaan menulis menggunakan mesin tik, perlahan-lahan bisa menggunakan desktop, lalu laptop, dan paling mutakhir menggunakan gawai. Perubahan yang terakhir ibarat ”revolusi jari” karena hanya dibutuhkan dua ibu jari untuk menekan tombol huruf di layar sentuh. Saat menggunakan mesin tik, desktop, dan laptop, masih dibutuhkan 10 jari. Bahkan, sewaktu awal belajar menekan tombol mesin tik, dibutuhkan ”14 jari” alias hanya menggunakan dua telunjuk!

Adakah Anda pernah mengalami transformasi serta adaptasi seperti yang diutarakan Putu Fajar Arcana tersebut? Jika saya pernah mengalaminya, terutama pada desktop, laptop, gawai. Untuk mesin tik pernah menggunakannya, namun tak begitu kerap. Dikarenakan pada masa itu telah terjadi transisi penggunaan desktop.

Adapun dari penggunaan mesin tik, menurut hemat saya dibutuhkan tenaga untuk memastikan huruf demi hurufnya tertera. Alangkah repotnya bila terdapat kesalahan tik pada masa itu. Pun begitu dengan apa yang ingin dituliskan, harus cermat dulu dilakukan.

Berbeda kiranya dengan di era desktop, laptop, gawai – dimana sebuah kesalahan, tinggal ”delete”, pada penggunaan mesin tik, adalah lazim untuk cabut kertas lalu ”dibejek-bejek”. Maka di samping harus cermat di kepala, bisa pula menggunakan catatan tangan terlebih dahulu sebagai panduan menulis, diperlukan pula tenaga untuk mengetik di mesin tik agar huruf yang diketik dapat dengan sempurna hadir di kertas.

Lalu bagaimana dengan desktop, laptop, gawai? Pada desktop, telah terdapat sejumlah kemudahan, di antaranya tombol “delete” seperti diungkap di atas. Di samping itu untuk mengetik tak perlu-perlu amat menggunakan tenaga fisik, cukup dengan sentuhan ringan saja, huruf pun dapat terketik. Paling salah satu perkaranya yakni tidak mobile-nya ketika menulis, karena berada di suatu tempat tertentu.

Lalu laptop dan gawai, yang memungkinkan untuk menulis dimana saja, kapan saja. Menulis di perjalanan pun tak masalah lagi. Saya sendiri secara personal pernah menulis di kereta yang sedang berjalan, mobil yang sedang melaju. Hal tersebut dikarenakan tenggat tertentu dalam tulisan, dan terus terang tidak nyaman di mata.

Dengan gawai, ide dasar maupun tulisan dapat dirampungkan. Meski begitu laptop, gawai, serta terkoneksinya dengan internet, terkadang dapat mengaburkan fokus, serta membuat diri berkelana kemana-mana.

Tentu apa pun alat untuk menulisnya, seperti mesin tik, desktop, laptop, gawai, memiliki kenangan dan adaptasinya sendiri. Berterima kasih pada ragam alat tersebut yang menjadi medium bagi karya, karya, karya yang ada pada lintas generasi.

Komen