Carian
Tips Membuat Pertanyaan Wawancara 
January 24, 2024 Arifin

Apakah semudah itu membuat pertanyaan? Dari pengalaman personal saya, membuat pertanyaan memerlukan riset tertentu.

Apa saja riset yang diperlukan? Di antaranya mengetahui 5W + 1H (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana). 5W + 1H tersebut merupakan hal mendasar, yang dapat dikembangkan menjadi ragam pertanyaan kemudian. Di samping itu, kerap kali informasi mengenai  5W + 1H telah ada, maka baiknya tak usah ditanyakan ulang, yang perlu dilakukan adalah memperdalam dari hal-hal mendasar tersebut.

Kala membuat pertanyaan, menurut hemat saya salah satu patokannya yakni siapa narasumber yang ditanyakan. Hal tersebut berpengaruh terhadap diksi serta kedalaman pertanyaan. Contoh yang dapat saya berikan, ketika melayangkan tanya kepada pelajar yang mengikuti Olimpiade Sains, bila dibandingkan dengan tanya kepada juri yang berlatar akademisi. Benang merahnya sama, sebagai contoh, mengenai soal yang diujikan. Tentu akan beda kiranya diksi yang digunakan untuk pelajar serta akademisi. Pun begitu dengan kedalaman pertanyaan kemudian yang dapat diajukan.

Tips berikutnya terkait pertanyaan wawancara, ketika narasumber telah diketahui, maka kenali narasumber tersebut. Baik hal yang sifatnya pemikiran maupun hal-hal humanis terkait narasumber tersebut. Dengan memiliki latar pengetahuan tentang narasumber, maka dapat menghindari pertanyaan berulang, yang telah diberikan jawabannya di kesempatan sebelumnya. Seseorang dapat memperdalam pertanyaan dari hal yang diketahui tentang narasumber, bisa pula menanyakan poin unik yang sekiranya belum pernah ditanyakan terhadap narasumber.

Lalu mengapa hal-hal humanis juga perlu diketahui? Hal tersebut perlu kiranya untuk menghadirkan sentuhan kemanusiaan dalam pertanyaan serta mencairkan keadaan. Manakala narasumber merasa nyaman, maka tanya-jawab pun dapat lebih rileks mengalir.

Riset juga diperlukan, terutama bila melakukan wawancara secara empat mata dengan narasumber. Dalam hal ini biasanya akan terdapat paparan dari narasumber dari apa yang ditanyakan. Dari paparan selama wawancara tersebut, juga dapat menjadi pertanyaan lanjutan, pertanyaan mendalam berikutnya.

Apa jadinya bila kurang riset ketika wawancara empat mata tersebut? Maka bisa jadi pewawancara akan kurang memahami apa yang diutarakan narasumber. Hal tersebut dapat menyebabkan pertanyaan spontan yang muncul saat wawancara menjadi tidak tepat sasaran. Berbeda kiranya ketika riset mumpuni telah dilakukan, pewawancara telah siap dengan pengetahuan akan apa yang ditanyakan. Maka dari pengalaman saya, dapat menjadi wawancara yang menyenangkan, mengalir, bahkan dapat melebihi waktu semula yang direncanakan.

Komen