Pers senantiasa berupaya menghadirkan informasi, menyiarkan berita bagi publik. Sama seperti profesi lainnya, mereka yang bergerak di ranah pers memiliki kode etik serta nilai-nilai yang dianut. Nyatanya kode etik ataupun nilai yang dianut tersebut, bila diterapkan bagi pembuat konten dalam platform apapun akan berfaedah adanya.

Pekerja pers melakukan cek dan ricek terhadap suatu informasi. Prinsip lainnya yakni rasa ingin tahu dari insan pers. Lalu, terdapat pula sisi lain, angle pemberitaan yang menjadi keunikan, kekhasan, pembeda.

Mari kita coba telaah hal di atas, serta coba diaplikasikan dalam ranah para pembuat konten. Cek dan ricek terhadap suatu informasi – hal tersebut merupakan metode yang dibutuhkan demi sebisa mungkin menghadirkan informasi yang akurat. Dalam hal ini diperlukan critical thinking, sikap skeptis, serta kesabaran dalam menelusuri dan memastikan kebenaran informasi. Apa untungnya menerapkan cek dan ricek? Maka selain akurat, juga integritas, kredibel, serta dikenal berusaha sebaik mungkin presisi dalam warta.

Untuk poin berikutnya, rasa ingin tahu. Dengan rasa ingin tahu, maka akan mencoba mengupas, timbul pertanyaan, bertanya. Hal itu dapat menjadi hulu, alasan dari pembuatan konten. Rasa ingin tahu dapat menjadi alasan. Mengapa begini, mengapa begitu. Tetaplah merasa “lapar” akan pengetahuan, dengan begitu maka dapat menyelami, mendalami, segala ragam ilmu dan pengalaman dari orang lain.

Poin berikutnya yakni sisi lain, angle pemberitaan. Hal tersebut selain menyajikan diferensiasi dengan informasi ataupun berita sejenis; juga bisa menjadi kekhasan dari konten yang diproduksi. Ketika bertemu suatu topik, suatu bahan, cobalah direka-reka, ini akan dibuat dengan jenis seperti apa. Bisakah membuat dari sisi menarik lainnya?

Ketika berada di lapangan, pada sumber informasi, lazimnya memungkinkan seseorang untuk memburu informasi yang ada seoptimal mungkin. Maka cobalah perbanyak sudut, gunakan panca indra untuk melacak hal unik-menarik, ataupun lihat dari perpektif konsumen.