Personal branding merupakan persepsi seseorang yang kamu bentuk terhadap dirimu dan apa yang bisa kamu tawarkan secara profesional saat ini serta di masa depan. Gambaran diri dapat ditunjukkan lewat berbagai medium penyampaian, salah satunya di media sosial.

Apa yang melekat pada diri, dilakukan secara terus-menerus, serta disadari orang lain, maka itu dapat membangun personal branding tanpa Anda sadari. Namun, personal branding pun dapat dibangun dengan perencanaan, artinya Anda dapat mendesain bagaimana perspektif seseorang terhadap diri Anda.

Citra diri yang positif, profesional, dan baik amat diperlukan untuk menunjukkan kredibilitas. Hal itu dapat diupayakan dengan personal branding. Manakala telah mengokohkan personal branding, maka diri dapat ‘menyala’ dibanding yang lainnya. Untuk ‘menyala’ ini maka perlu diupayakan dengan telaten, tekun, fokus, citra apa yang ingin dibangun. Maka teruslah konsisten melakukannya. Membangun personal branding ini sifatnya perlahan, serta tidak dibangun dalam semalam, diperlukan kesabaran untuk menancapkan “brand” Anda di khalayak.

Berupaya menanamkan citra secara terus-menerus memang dapat melelahkan. Untuk ‘jangan kasih kendur’ ini memang perlu kesabaran, serta evaluasi. Dari yang lalu-lalu dapat dilihat, mungkin masih ada segi yang kurang dalam upaya menghadirkan personal branding.

Dalam personal branding juga perlu kiranya untuk bak ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Maka seseorang dapat belajar dan berkolaborasi secara luas. Apa pasal bila tak seperti ilmu padi? Maka merasa pongah, serba tahu, serta enggan untuk senantiasa belajar.

Untuk membangun citra, Anda tak harus memikul bebannya sendirian. Ajaklah orang-orang yang sejalan dengan citra yang ingin dibangun. Di samping itu, caranya pun dapat beragam. Bisa dengan konten ‘tipis-tipis’, dari slice of lice, dan sebagainya.