Carian
Menghadirkan Habitat Bagi Satwa 
March 7, 2024 Arifin

Ada yang memantik dari buku Koala Kumal karya Raditya Dika. Raditya menganalogikan kisah ceritanya dengan koala kumal. Ia pernah membaca artikel, dimana terdapat foto seekor koala, jadi ada hutan dibakar habis, si koala ini enggak tahu bahwa hutannya habis dibakar sama manusia. Di fotonya koalanya kumal, dekil, melihat satu hutan sudah dibakar, rumahnya, koala tersebut hanya dapat bengong dan terdiam.

Memantik, karena dapat dikaitkan dengan isu lingkungan hidup, dimana kehilangan habitat bagi satwa. Lalu, apa yang dapat dilakukan? Tiap dari kita dapat mengupayakan semampu yang dapat dilakukan. Misalnya, dengan membuat kebun di rumah, yang tanaman-tanamannya dapat mengundang kupu-kupu.

Dalam konteks habitat serta cerita sebuah kota, dapat diambil sampel Tebet Eco Park (TEP) di Jakarta. Di TEP, terdapat zona Forest Buffer, area yang dikhususkan untuk meredam polusi suara. Nyatanya tupai, burung, terganggu dengan polusi suara yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Maka tupai, burung, tak singgah di tempat yang menurut mereka bising.

Masih dari Tebet Eco Park, melihat habitat dapat ditempuh di zona Wetland Boardwalk. Terdapat keterkaitan antara capung merah dengan kualitas air. Capung merah hanya menaruh telurnya di perairan yang baik. Hal yang dapat ditemui di zona Wetland Boardwalk Tebet Eco Park, dimana capung merah singgah disitu. 

Sejenak memutar waktu ke era pandemi Covid-19, saat itu sejumlah hewan yang tak terlihat, muncul ke publik. Suatu sinyalemen kondisi alam yang mengalami pemulihan, seiring dengan pembatasan kegiatan manusia.

Lantas bagaimanakah dengan era sekarang, ketika Covid-19 telah menjadi endemi? Maka menghadirkan konsep mesra dengan alam, dapat dilakukan dengan menyuarakannya, melakukan tindakan nyata yang dapat dilakukan. Berupaya menghadirkan habitat bagi satwa yang ada, layak dimaknai sebagai kebutuhan manusia untuk membalas jasa kepada alam.

Komen