Setelah Gagal Dan Gagal, Masih Berani Untuk Mencoba Lagi? 

July 17, 2024
fakta menarik

Arifin

Belum lama ini, anak kami mengikuti perlombaan lari 30 meter. Ini adalah kali keempat ia mengikutinya. Untuk urusan hasil akhir, anak kami belum menjadi juara 1, juara 2, ataupun juara 3. Namun, ada kegembiraan yang kami dapatkan sebagai orang tua, yakni kemauan anak untuk mencoba ikut lomba.

Kegembiraan pun nampak terlihat dari wajah anak kami ketika mengikuti lomba lari. Dari posenya, dari senyumnya yang terbentang ketika lari.

Adakah kami sebagai orang tua kecewa, khawatir, dengan berulang kali ikut lomba, namun belum menyentuh podium juara? Sejauh ini, kami sebagai orang tua bersyukur, senang, karena anak telah berani mencoba ikut lomba lari dengan anak-anak seusianya. Lagian toh, ada konsep kecerdasan majemuk.

Adakah kiranya orang tua selalu menjadi referensi, selalu yang benar? Menurut hemat kami, nyatanya orang tua pun dapat menimba ilmu dari anak, diingatkan konsep-konsep mendasar dari anak.

Menjadi lebih tua, ada kemungkinan terdapat bias dalam memandang sesuatu. Seperti glorifikasi terhadap apa yang dimaksud prestasi. Atau miskonsepsi tertentu bahwa ‘bila Anda menang, Anda hebat’.

Padahal kiranya, prestasi, dapat dilihat dari sudut lain. Seperti keberanian untuk mencoba. Atau bangkit, resistensi ketika telah berulang kali gagal.

Bagaimana memandang kegagalan juga perlu dimaknai. Bahwa kegagalan merupakan hal yang lumrah. Bahwa Anda bukanlah orang pertama yang gagal.

Seperti hidangan sushi di meja yang berjalan, ada kesempatan-kesempatan yang terbentang dalam hidup. Akankah kita mengambilnya, mencobanya?

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd