Menghormati ‘Kemalasan’
Arifin
Malas merupakan hal yang kerap dituding sebagai biang kerok masalah serta kegagalan. Malas sendiri merupakan sifat dasar manusia. Merupakan hal yang lumrah, universal, bila memiliki rasa malas tertentu.
Yang perlu ditelaah yakni bagaimana mengelola rasa malas itu, serta memandang rasa malas. Pernah mendengar konsep ‘low hanging fruits’? Bila diaplikasikan dalam ranah karya, konsep tersebut dapat bertaut dengan ‘berdamai dengan malas’ serta konsistensi dalam berkarya. Bila ingin konsisten dalam berkarya, maka harus berstrategi. Maka salah satu strategi yang dapat diterapkan yakni ‘low hanging fruits’ – diibaratkan mengambil buah yang gampang diambil. Maka cobalah dengan melakukan hal yang mudah dilakukan, bak mengambil buah yang gampang diambil tersebut.

Cobalah terapkan ‘low hanging fruits’ serta lihatlah korelasinya dengan konsistensi berkarya. Teramat mungkin bila ‘low hanging fruits’ diterapkan, ternyata bisa lho konsisten berkarya. Lalu lihatlah dalam potret lebih besar, ketika konsistensi berkarya itu telah terakumulasi, maka seseorang memiliki portofolio karya dengan volume yang mumpuni.
Menghormati ‘kemalasan’ juga dapat dilihat dari perspektif lainnya. Berapa banyak inovasi, penemuan, yang terjadi karena menghormati ‘kemalasan’? Dengan inovasi, penemuan, yang ada, maka manusia dapat memangkas waktu di bidang tertentu, serta dapat berfokus mengerjakan hal lainnya.
Menghormati ‘kemalasan’, dapat juga berarti menimbang opportunity cost. Pikiran seseorang akan mengkalkulasi, bersiasat, kiranya mana yang lebih efektif, mana yang lebih menguntungkan, mana yang tak terlampau melelahkan.
Kemalasan, pun dapat menjadi renungan, adakah cara lainnya, adakah cara yang lebih efektif. Misalkan, bila mengupayakan kebiasaan baru berolahraga. Bila langsung olahraga saja, bisa jadi malas pelan-pelan menyerang. Maka ‘mengakali malas’ ini dapat dengan cara lainnya, seperti mengawinkan dengan kebiasaan yang disukai. Contohnya berolahraga sembari mendengarkan musik (hal yang disukai).
Bila merasa malas, seseorang dapat melacak terlebih dahulu. Jangan-jangan itu sinyal dari tubuh untuk istirahat, mengambil jeda. Bukankah manusia memang tak memiliki kemampuan untuk ‘menyala’ terus? Ada saatnya untuk rehat, istirahat, mengambil jeda.