Menceritakan Kesedihan Kepada Anak
Arifin
Orang tua lazimnya ingin anak berada dalam keadaan bahagia, sehat, sejahtera. Namun, adakah guna menceritakan kesedihan kepada anak? Adakah kesedihan masuk dalam opsi untuk dikisahkan? Baik dalam buku cerita anak, percakapan sehari-hari, dan sebagainya.
Dalam artikel berjudul It’s Ok to Read Sad Stories for Children yang dimuat di website parenting Family.co, disebutkan beberapa keutamaan membaca cerita sedih untuk anak, di antaranya adalah, “Untuk anak-anak yang hidupnya relatif nyaman dan bahagia, cerita sedih akan mengajari mereka tentang empati, dan memberikan mereka pemahaman tentang orang-orang yang kehidupannya tidak seberuntung mereka. Untuk anak-anak yang sering menghadapi kesulitan di rumah, cerita sedih akan menyadarkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.”

Penting kiranya bagi ayah-bunda untuk menempatkan perspektif yang tepat dalam melihat anak. Anak merupakan manusia kecil yang akan tumbuh besar. Maka perlu disiapkan pula hal-hal yang sekiranya akan dihadapi ketika besar nanti. Salah satunya adalah rasa sedih, menyikapi kesedihan.
Anak perlu dikenalkan dengan rasa sedih. Ketika mengalami hal yang menyedihkan, kenalkan kepada anak bahwa emosi itu adalah sedih. Adalah utopis, bila manusia di dunia selalu senang, gembira. Sedih merupakan bagian dari kehidupan. Dan anak perlu diperkenalkan secara proporsional tentang kesedihan.
Orang tua juga dapat bertutur dalam cerita keseharian, mengenai kesedihan yang dialaminya. Dengan begitu anak akan merasa bahwa dirinya tak sendirian dengan rasa sedih. Rasa sedih merupakan perasaan yang dialami oleh manusia-manusia, baik yang dikenalnya secara dekat, maupun orang-orang lainnya.
Kenalkan pula mengenai bagaimana sebaiknya mengelola rasa sedih itu. Bisa dengan menerima rasa sedih, menangis bila perlu, dan sebagainya. Orang tua juga dapat mengupayakan dengan membeli buku yang bertemakan, beririsan tema dengan kesedihan. Di samping itu, contohkan pula melalui teladan, perihal mengenali kesedihan, serta menyikapinya.