Memaknai ‘Dipuji Tidak Terbang, Dicela Tidak Tumbang’
Arifin
Tempelan stiker di truk kerap kali jadi bahan perenungan tersendiri. Seperti yang kami dapati beberapa waktu lalu saat sedang mengantre di lampu merah serta berdampingan dengan sebuah truk. Terdapat stiker yang bertuliskan, ‘Berhati-hatilah dengan pujian, karena banyak nyamuk yang mati karena tepuk tangan’.
Kami pun teringat dengan istilah ‘Dipuji tidak terbang, dicela tidak tumbang’. Mari coba ditelaah dalam dua bagian. Bagian pertama: dipuji tidak terbang. Hendaknya untuk memaknai pujian secara proporsional. Jangan pula karena pujian hingga terlena, lupa daratan.

Jangan pula menjadi orang yang begitu haus dengan validasi serta amat sangat butuh pujian. Berbuatlah sebaik-baiknya, hadirkan manfaat bagi orang lain, perkara akan dipuji atau tidak, maka itu harus dibiasakan menyikapinya dengan baik.
Hadirkan pula sikap waspada saat dipuji, benarkah tulus memuji atau bisa jadi ada maksud tertentu dengan pujian yang dilayangkan. Pujian juga hendaknya tidak membuat seseorang lupa dengan perjuangan diri yang telah dilakukan. Siapkan diri bila tak ada yang memuji ataupun tak ada tepuk tangan kala telah merampungkan maupun mengerjakan sesuatu.
Aneka pujian, juga semoga tidak membuat diri cepat berpuas diri, serta berhenti berkembang, beradaptasi, serta tetap relevan.
Ada pun di bagian ‘dicaci tidak tumbang’, hendaknya perlu menyikapi dengan kepala dingin. Ketika dicaci, telusuri pula siapa yang mencaci. Bisa jadi cacian itu hadir karena kurang informasi, sisi subyektif tertentu.
Pada poin telusuri siapa yang mencaci, menurut hemat saya berdasarkan pengalaman, ada saja orang yang memang hobi mencaci, mengkritik, merasa ada saja selalu kurangnya. Maka perlu kiranya juga untuk memilah, memilih apa yang ingin dicerna dalam pikiran
Saat dicaci, dikritik, telaah juga intisarinya. Bisa jadi secara penyampaiannya yang kurang enak didengar, namun secara substansi benar adanya.
Berupayalah sebaik-baiknya, serta menghadirkan manfaat bagi orang lain, perkara dicaci, dikritik, tetap saja hal itu dapat melekat dan terjadi. Maka dengan begitu ada kesadaran untuk bijak menyikapi cacian dan kritikan.