Ketika Anak Mendapat Nilai Jelek 

September 5, 2024
fakta menarik

Arifin

Ayah-bunda apa yang dilakukan sekiranya anak mendapat nilai jelek? Memang wajar bila orang tua menginginkan anaknya mendapat nilai baik, unggul dalam pelajaran, serta berbagai hal baik lainnya. Namun, bagaimana jika kenyataan yang dihadapi anak mendapatkan nilai jelek ataupun ada perilaku kurang baik yang muncul ke hadapan?

Orang tua perlu mengupayakan komunikasi yang baik dengan anak. Dengan begitu anak nyaman bercerita tentang apa saja. Tak hanya tentang kesenangan, kegembiraan, melainkan juga hal-hal yang mengecewakan, menyedihkan bagi anak.

Lalu, adakah dalam komunikasi itu, orang tua senantiasa memberi solusi? Anak dengan kodrat pembelajaran yang dimiliki, sesungguhnya dapat belajar, termasuk mencari solusi sendiri. Anak memerlukan lingkungan yang aman, nyaman baginya yang mengalami ragam emosi, perasaan.

Maka ketika anak mengalami nilai jelek, orang tua dapat lho bertanya apa yang dirasakan anak ketika mendapat nilai tidak bagus. Anak mengungkap bahwa dirinya mendapat nilai jelek saja kepada orang tua perlu diapresiasi. Bukankah pada sejumlah episode kartun Doraemon, Nobita kerap menyembunyikan nilai serta hasil ulangannya yang buruk? Sekelumit narasi dari Nobita tersebut juga dapat mengungkap tentang komunikasi, serta menyikapi nilai tes anak yang buruk.

Alih-alih sibuk dengan pernyataan, judgement, orang tua dapat berfokus pada pertanyaan, menghadirkan empati, serta berada di sisi anak. Orang tua misalnya dapat bertanya pada anak, “Apa yang dapat membuat anak merasa lebih baik setelah ini?”

Anak dengan kodrat pembelajaran yang dimilikinya pun bisa jadi menganalisa mengapa nilai tesnya tak baik. Bisa jadi karena memang belum optimal belajar di bagian yang diuji, kurang dapat mengatur waktu, dan sebagainya. Orang tua pun dapat bersama anak mencoba menghadirkan kira-kira apa ya yang harus dilakukan. Seperti misalnya, agar anak belajar dengan nyaman, mungkin membutuhkan tambahan les, fasilitas tertentu, ataupun waktu belajar yang lebih banyak.

Orang tua juga perlu kiranya mengenal tentang kecerdasan majemuk. Di mana pada area tertentu, anak dapat begitu unggul, sedangkan di area lainnya anak tidak begitu piawai.

Lalu, penting pula bagi orang tua untuk mengupayakan growth mindset bagi anak. Di mana resiliensi diupayakan, dilatih. Anak perlu untuk menghadapi tantangan dalam pembelajaran serta subjek-subjek yang mungkin tak disukainya, tapi perlu dihadapinya.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd