Karena Hidup Tak Selalu Nyaman
Arifin
Beberapa pekan telah menjelang, anak kami mengikuti les renang. Pada suatu sesi, tampak wajah anak kami tak nyaman. Itu dikarenakan pelatihnya memberi jarak tertentu, agar dapat mencoba sendiri berenang, terutama dengan menggerakkan kaki secara aktif.
Bukankah hal semacam itu terjadi pada berbagai hal kehidupan? Bahwa ketidaknyamanan, protes, resistensi terjadi. Dikarenakan dari situasi nyaman menjadi tidak nyaman. Namun, hal itu diperlukan agar dapat naik level, menambah keterampilan.

Ketidaknyamanan juga dapat muncul ketika mencoba sesuatu yang baru. Untuk menjadikan terbiasa perlu melakukan terus-menerus, berulang kali, hingga secara baik melakukan adaptasi.
Ambil contoh, dengan seseorang yang baru membiasakan berolahraga, maka sejumlah ketidaknyamanan dapat terjadi. Badan awalnya tak terbiasa, namun lakukan secara terus-menerus, konsisten, maka tubuh akan beradaptasi, serta faedah secara fisik dan mental akan didapatkan.
Ketidaknyamanan juga dapat terjadi ketika berusaha memperbaiki hal-hal yang keliru. Seperti misalnya pada postur tubuh, serta diingatkan untuk bersikap sesuai konteks. Telah terbiasa keliru, lalu mencoba membiasakan yang benar, memerlukan perjuangan serta diupayakan lagi dan lagi.
Ketidaknyamanan juga dapat terjadi ketika diri menantang zona nyaman. Bisa dengan menjajal pengalaman baru, mencoba mengembangkan kapasitas, dan sebagainya. Ambil contoh, ketika bekerja tidak dalam zona nyaman yang biasa dilakoni. Misalnya, penulis memiliki ekosistem paling nyaman untuk menulis. Namun, apa jadinya bila ia menulis di tempat dan waktu yang tak biasa. Katakanlah di tempat yang bising, suasana bergerak (di perjalanan), serta dalam tenggat yang sempit. Maka mencoba melakukannya dapat menjadi keterampilan baru, yang memungkinkan untuk lebih fleksibel menulis dalam berbagai kesempatan dan waktu.