Tips Mengendalikan Konsumsi Makanan Ultra-Proses
Arifin
Menurut sejumlah penelitian, terdapat korelasi langsung antara jumlah makanan ultra-proses dalam diet dan risiko diabetes tipe 2, tetapi risiko ini bisa ditekan dengan memilih makanan yang tidak terlalu banyak melalui proses pengolahan.
Memang makanan ultra-proses mudah didapat serta terjangkau sehingga lebih mudah dikonsumsi secara teratur, membuat orang dengan mudah mengonsumsinya secara berlebihan. Makanan olahan cenderung mengandung lebih banyak gula, garam, dan lemak.

Mengonsumsi banyak gula, garam, dan lemak dari makanan olahan akan membuat ruang untuk nutrisi dari makanan dengan tingkat pengolahan rendah seperti sayur dan buah-buahan terambil.
Namun, menghentikan sama sekali konsumsi makanan olahan justru bisa menimbulkan keinginan berlebihan untuk memakannya. Guna mengatasi masalah itu, makanan olahan bisa dijadikan sebagai bagian dari rencana makan sehat.
Namun, dalam hal ini makanan utuh dan makanan yang diproses secara minimal tetap harus menjadi bagian terbesar dari makanan yang dikonsumsi.
Tips terbaik untuk fokus memprioritaskan diet seimbang adalah dengan fokus pada makanan yang paling Anda butuhkan.
Maka dapat dilakukan pemaduan makanan yang menyenangkan dengan makanan yang dibutuhkan, seperti memadukan keripik dengan sumber protein seperti kacang-kacangan atau keju dan sayuran seperti mentimun atau wortel.
Dengan demikian, asupan nutrisi yang dibutuhkan bisa dipenuhi tanpa berlebihan mengonsumsi makanan yang lebih “menyenangkan”.
Makanan adalah kesenangan dalam hidup, dan pada akhirnya, hanya karena Anda mengurangi sesuatu tidak berarti Anda mendapatkan cukup makanan yang Anda butuhkan. Fokuslah pada apa yang ditambahkan ke dalam diet Anda.
Sumber: Well and Good, Antara