Berdamai Dengan Ketidaksempurnaan
Arifin
Mulai saja dulu, untuk kemudian segala ketidaksempurnaan perlahan ditambal. Adakah Anda pernah mengalami hal semacam itu? Semula di kepala berpikir tentang ini-itu, sepertinya ada begitu banyak hal yang masih perlu disempurnakan. Memang baik kiranya untuk melakukan perencanaan, simulasi kemungkinan di kepala. Namun, perlu juga untuk memaknai berdamai dengan ketidaksempurnaan, serta memulai saja dulu, untuk kemudian berusaha diperbaiki kemudian.

Keinginan untuk sempurna dapat menjadi hambatan, untuk akhirnya tidak kunjung memulai langkah pertama. Untuk ke langkah 1.000 dibutuhkan langkah pertama. Di mana langkah-langkah awal bisa jadi masih tertatih, bingung, belum terlalu terampil.
Berbagai hal yang dirasa “tidak sempurna” tersebut, namun bila dikerjakan akan menjadi portofolio, menjadi muscle memory, serta pengalaman melakukan sesuatu.
Berdamai dengan ketidaksempurnaan juga dapat diupayakan dengan memberikan tenggat pada karya. Tentukan kapan kiranya suatu karya usai, maka konsekuenlah pada tenggat tersebut. Pada waktu yang ada, berupayalah dengan sebaik-baiknya.
Keinginan untuk sempurna juga dapat menjadikan asa tertumpuk saja serta tak kunjung terkerjakan dengan progres yang baik. Asa yang tertumpuk bisa karena filosofi waktu yang akan senantiasa terisi dengan kesibukan lainnya.
Sementara itu, kenali pula konsep estetika Jepang wabi sabi. Konsep wabi sabi bisa membantu seseorang melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan, menghargai kesederhanaan, serta menerima bahwa semua hal bersifat sementara.
Konsep estetika dari Negeri Matahari Terbit tersebut juga mengajak kita untuk melepaskan usaha tak berkesudahan demi mengejar kesempurnaan.