Belajar Lewat Mengalami
Arifin
Ada begitu banyak pengetahuan yang diketahui serta diingat. Namun dari sekian banyak itu, ketika seseorang mengalami, berpengalaman, pengetahuan tersebut dapat lebih berkesan serta dimaknai.
Ambil contoh pengetahuan tentang perubahan iklim. Hal tersebut bisa jadi telah memiliki pengetahuan, baik itu secara ilmu pengetahuan alam, ilmu sosial, ilmu agama, dan sebagainya. Namun, bisa jadi lebih berkesan, berdampak, ketika diri turut serta ambil bagian. Seperti memilah sampah yang ditempatkan di tempat sampah sesuai peruntukan, membuat kerajinan dari barang bekas, mengurangi sampah rumah tangga sebisa mungkin, dan sebagainya.

Berbagai tindakan yang bila dilakukan tersebut, maka akan berada pada fase mengalami. Tak sekadar tahu, namun telah lebih jauh dengan mengalami, melakukan tindakan.
Terjun langsung dengan mengalami, maka pengetahuan yang didapatkan pun dapat berlipat. Dari proses mencari tahu ilmu, serta dari melakukan tindakan di lapangan. Dikarenakan ketika berada di lapangan, dapat bertemu dengan realitas terkini, tantangan serta solusi yang diupayakan di lapangan.
Beberapa hal dalam lembar hidup Anda bisa jadi baru terampil ketika telah mengalaminya. Seperti misalnya bersepeda, berkendara, berenang, menggunakan komputer, dan sebagainya. Jika sekadar hanya teori, namun tidak mengalami dengan bertindak, maka sejumlah keterampilan tersebut rasa-rasanya sukar untuk dikuasai.
Ketika telah mengalami, berbagai teori, saran yang diberitahukan, diaplikasikan dalam tindakan. Hal semacam itu dapat pula menjadi refleksi dalam pembelajaran diri serta keluarga. Tak sekadar tahu ini, tahu itu, namun perlu juga untuk mengalami ini, itu, melakukan tindakan ini, itu. Adakah perlu sempurna selalu? Tidak juga karena yang penting adalah keberanian mencoba, keberanian memulai, keberanian untuk mengalami.