Memaknai ‘Katak dalam Tempurung’ Dan ‘Burung Unta Yang Membenamkan Kepala Ke Tanah’
Arifin
Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik setiap pertanda
Demikian kiranya petikan lirik lagu Firasat yang diciptakan Dewi Lestari. Dalam khazanah lainnya juga dikenal konsep “alam terkembang jadi guru”.
Tak berlebihan memang, karena pada alam, yang di antaranya ditunjukkan binatang, terdapat pertanda maupun pembelajaran. Seperti dalam mendeteksi bencana alam, sejumlah hewan memiliki insting yang lebih peka, hingga dapat mengetahui kedatangan bencana alam sebelum manusia menyadarinya. Terdapat hewan yang mendeteksi bencana dari gelombang yang didengar atau dari penciuman yang tajam.

Pengamatan terhadap hewan, juga untuk kemudian dilekatkan dengan permaknaan. Dikenal peribahasa ‘Seperti katak dalam tempurung’, lalu dikenal idiom ‘membenamkan kepala ke tanah seperti burung unta’. Mari menelaah secara singkat mengenai konsep yang dilekatkan dengan perilaku hewan tersebut.
Dikenal peribahasa ‘Seperti katak dalam tempurung’. Hal tersebut dimaknai sebagai seseorang yang wawasannya kurang luas, bodoh, picik. Orang seperti ini penglihatannya tidak luas, luasnya bagaikan luas tempurung. Orang ini juga tidak mau terbuka dengan ilmu pengetahuan.
Menarik adanya Les’ Copaque Production yang memiliki logo, satu katak yang berada di atas tempurung. Logo Les’ Copaque adalah katak kecil bernama Si Polan. Si Polan, duduk di atas tempurung kelapa, yang berarti keinginan untuk bermimpi besar dan kemampuan mereka untuk berpikir di luar kotak. Agaknya filosofi logo dari Les’ Copaque Production tersebut cukup relevan bila diterapkan bagi diri.
Sementara itu, membenamkan kepala ke tanah seperti burung unta merupakan sebuah idiom dalam bahasa Inggris, to bury your head in the sand, like an ostrich. Dilansir dari laman Cambridge Dictionary, “bury/have your head in the sand” bermakna menolak memikirkan fakta yang tidak menyenangkan, meski hal ini akan memengaruhi situasi seseorang. Dengan kata lain, seseorang memilih mengabaikan atau menghindari masalah, tetapi tetap berharap masalah itu akan menghilang sendiri. Kiranya ketika menghadapi masalah, respons yang ada yakni fight atau flight. Memang diperlukan pembiasaan untuk menghadapi masalah serta berusaha mencari dan menjalani solusinya.