Bercerita Tentang Kegagalan
Arifin
Ada begitu banyak cerita yang disajikan pada hari-hari ini. Berbagai kisah sukses, resiliensi, hadir di berbagai platform. Meski begitu, bila ditelaah kisah sukses maupun resiliensi tersebut, terdapat cerita-cerita tentang kegagalan.
Kegagalan sesungguhnya merupakan hal yang melekat pada kesuksesan. Namun, ada kecenderungan, serta konstruksi sosial untuk sekadar melihat kisah sukses, cerita gemerlapnya saja.

Ibarat puncak gunung es, yang terlihat hanya bagian puncaknya. Padahal bagian gunung yang di dalam lautnya (yang tak terlihat) ada begitu banyak kegagalan yang menyertai. Maka bila boleh menyarankan, ketika melihat kisah seseorang, entitas, perusahaan, maka meniliklah secara utuh. Beberapa liputan yang komprehensif juga memperlihatkan pula kegagalan, rumpang, celah, kekeliruan langkah. Dengan potret utuh, perspektif tersebut, maka dapat timbul pemahaman untuk menimbang kegagalan, keberhasilan secara proporsional.
Ketakutan akan gagal dapat menjadi kegagalan tersendiri. Dikarenakan diri menjadi enggan mencoba, enggan berusaha, takut kecewa. Hal tersebut dapat terjadi karena perspektif tentang kegagalan yang tidak tepat.
Ketika Anda berusaha membagikan cerita kepada publik, tak ada salahnya untuk menyertakan kisah-kisah kegagalan personal. Percayalah Anda tidak sendiri dengan kegagalan. Ada begitu banyak sesungguhnya orang-orang yang sefrekuensi: mengalami kegagalan pula, merasa gagal.
Bercerita tentang kegagalan juga sesungguhnya mengenali perasaan kecewa. Bagaimana diri memproses rasa kecewa itu. Bagaimana diri beradaptasi dengan kegagalan itu. Bagaimana diri berusaha agar lebih baik, resiliensi, setelah mengalami kegagalan.
Sementara itu, kegagalan juga dapat menjadi hikmah. Justru bila ditelaah kemudian, bisa jadi untungnya gagal di saat dulu, semacam blessing in disguise. Dari kegagalan, seseorang juga dapat belajar.
Segala usaha yang menemui kegagalan teramat mungkin membuat capek. Namun, seperti kalimat bijak bestari: Kalau kamu capek hari ini, kita coba lagi besok.