Cinta & Benci Pada Karakter Cerita
Arifin
Apa serunya ketika membaca untuk kali pertama? Seseorang akan mencoba mengenali karakter-karakter yang ada, menikmati setting. Lalu juga penasaran dengan ceritanya, serta apa ya yang terjadi berikutnya. Rasa penasaran ini bahkan dapat membuat membaca cepat, membaca non stop, maraton membaca novel yang sama berhari-hari.
Seseorang dapat larut dalam cerita, terbawa emosinya, terkecoh dengan plot twist yang ada, menerka-nerka cerita dan nasib karakternya. Begitu rampung membaca, seseorang dapat mengalami cinta dan benci pada karakter dalam cerita. Maka itulah kiranya spoiler begitu menyebalkan. Karena dapat merampas keseruan menerka, rasa bertanya-tanya. Karena spoiler jadi tahu akan plot twist, kecohan, yang sesungguhnya membuat seru cerita.

Plot twist, kecohan, itu di antaranya mengenai karakter. Ternyata terungkap sisi lainnya, masa lalunya, alasan mengapa mengambil tindakan tersebut. Bila boleh mengambil sampel, karakter yang dapat memantik cinta dan benci bagi pembaca yakni Severus Snape dalam cerita Harry Potter. Bagaimana rasa kebencian pembaca kepada Snape dicicil terus-menerus pada versi bukunya dari 1 hingga 6. Ditambah lagi pada buku ke-6, Snape lah yang mengakhiri hidup Dumbledore.
Namun, pada buku ke-7 Harry Potter dan Relikui Kematian, Snape mengalami permaafan. Ternyata Snape menaruh hati kepada Lilly (ibu Harry Potter) sejak kecil. Rasa kasih kepada Lilly itulah yang menjelaskan mengapa Snape dengan caranya melindungi Harry Potter. Warna mata yang sama antara ibu dan anak, memantik Snape untuk setia melindungi Harry Potter. Di samping itu, ada latar sejarah James (ayah Harry Potter) sejak dari Hogwarts kerap berkonflik dengan Snape.
Perasaan berang, kesal kepada Harry Potter juga berkat identiknya dengan James dalam melanggar peraturan. Pada buku ke-7 dengan pengungkapan masa lalu serta alasan tindakan Snape maka para pembaca pun dari benci menjadi salut kepada sang “Pangeran Berdarah-Campuran”.
Sementara itu, pada sampel lainnya ada Eren Yeager pada Attack on Titan. Eren kecil dan remaja adalah tokoh kebanggaan yang didukung untuk menghadapi para Titan. Namun, pada volume akhir dari kisahnya Eren yang semula dipercaya menjadi penyelamat, harapan, malahan menjadi sang pembantai. Eren berperan dalam pemusnahan, hingga tinggal tersisa ¼ populasi.
Rasa trauma, upaya memusnahkan ancaman di masa depan, merupakan sekelumit alasan Eren melakukan pemusnahan massal. Meski begitu, para penikmat Attack on Titan telah dicicil terus-menerus sebelumnya mengenai harapan, ketakutan Eren, serta bagaimana ia tumbuh berkembang.
Begitulah kiranya para karakter dalam cerita, yang dapat mengalami pergeseran kesan. Sama halnya dengan kesan kita pada hal-hal di dunia nyata yang juga dapat mengalami perubahan, dari benci menjadi cinta, dari cinta menjadi benci