Lewat Novel, Jadi Tahu Suka Duka Bermusik Di Zaman Sekarang
Arifin
Novel tak hanya sekadar cerita para tokoh beserta problemnya. Novel juga dapat menjadi cara untuk melihat fenomena. Di antaranya fenomena terkait musik. Simaklah novel Rapijali dan Timun Jelita yang sama-sama memiliki cerita berdasarkan musik.
Rapijali tentang keikutsertaan di ajang Band Idola Indonesia. Simak bagaimana cara band Rapijali untuk membuat lagu, di antaranya hingga “menyepi” di daerah Pantai Batu Karas.
Sedangkan novel Timun Jelita berkisah tentang duo musik (Timun seorang akuntan freelance berusia 40 tahun yang ingin bermusik kembali dan Jelita mahasiswi yang pernah dikecewakan oleh teman-teman band-nya yang lama). Dalam sinopsisnya diterangkan dalam novelnya akan mengikuti cerita tentang suka duka bermusik di zaman sekarang.

Lantas, seperti apa saja? Misalnya terkait popularitas yang dapat direngkuh “cukup” bermodalkan satu single. Seperti diceritakan berikut:
‘Dioltas?’ tanya Timun kepada Robert. ‘Band apa itu?’
Robert tersenyum lebar. ‘Band lagi rame banget di Spotify nomor satu dia sekarang. Single-nya baru satu tapi udah viral di mana-mana.’
‘Kok bisa?’ tanya Timun.
‘Lagunya enak, terus banyak orang pakai di TikTok.’
Suka duka bermusik di zaman sekarang juga dapat ditilik dari cara mengaransemen lagu. Seperti diceritakan berikut:
Timun lalu sibuk mengetik sesuatu di handphone-nya. Robert memperhatikan mimik Timun yang serius, lalu bertanya, ‘Itu ngapain?’
‘Nyari studio latihan, buat kita mulai aransemen.’
Mendengar itu, Jelita langsung berkata, ‘Kak Timun, sekarang kita semua ngerjainnya di sini.’
Jelita mengeluarkan sebuah laptop, lalu membukanya. Dia melanjutkan bicara, ‘Gak usah nyewa studio, gak usah latihan, kita bisa langsung bikin. Aku punya Cubase. Nanti colok audio interface, masuk ke laptop ini. Gitar colok, mainin pakai virtual amp.’
‘Drum beat-nya gimana? Kamu ada drum di rumah?’ tanya Timun.
‘Drumnya aku gambar,’ kata Jelita. ‘Gampang kok.’
‘Drum digambar? Ini kita nge-band apa mau bikin lukisan?’ tanya Timun lagi.
‘Bukan digambar, kayak lukisan gitu, Kak Timun. Tapi dibuat pakai MIDI, jadi sound drumnya aku buat secara bohongan. Pakai MIDI controller aku input suara drum, bukan drum beneran yang kita rekam. Nanti kalau aransemen udah komplit kita tinggal ngobrol lagi aja. Sudah cukup atau perlu kita ganti dengan rekaman drum asli. Nah, itu baru kita ke studio rekaman.’
Suka duka bermusik di zaman sekarang juga dapat ditilik dari tren membuat proyek musik sendiri. Seperti diceritakan Timun berikut:
‘Aku baru ngeh, ternyata perkembangannya segitunya. Pantesan sekarang, paling enggak di luar negeri, lebih banyak musisi solo daripada musisi yang bikin band, ya? Aku sampai baca artikel di Guardian, katanya di negara Barat anak muda sekarang lebih banyak yang tertarik untuk bikin project musik sendirian.’
‘Kamu sampai cari tahu soal ini?’ tanya Putri.
‘Iya, Sayang. Sampai ada genre-nya sendiri untuk musik yang diciptain, dinyanyiin, di kamar sendirian, bedroom pop namanya. Clairo salah satunya, dia rame banget dari Youtube, nanti kamu denger deh.’