Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan
Arifin
Ayah-bunda, adakah ketika bermain dengan anak senantiasa mengalah serta “memberikan” kemenangan kepada anak? Sebaiknya pertimbangkan pula untuk membiarkan anak mengalami kekalahan. Lihatlah reaksi mereka terhadap kekalahan.
Dalam kehidupannya, anak akan menghadapi situasi perlombaan, persaingan. Mungkin pula sejak dini, orang tua telah mengikutsertakan anak pada kejuaraan tertentu. Sebelum mengajarkan anak, para orang tua juga perlu kiranya untuk bijak melihat kalah dan menang. Dikarenakan bisa jadi malah dari orang tuanya yang ingin anaknya menang, menang terus, serta menampik kekalahan.

Anak belajar dari orang tuanya, baik yang terlihat jelas serta tersirat. Maka sebisa mungkin berikanlah teladan yang baik, termasuk dalam hal menerima kekalahan. Telahkah ayah-bunda berusaha memberikan teladan baik di sisi menerima kekalahan?
Orang tua dapat memberikan perspektif yang luas mengenai perlombaan, bahwa yang ikut ingin menang, namun tidak semuanya dapat menang. Orang tua pun bisa memberikan apresiasi kepada anak bila mengikuti lomba. Untuk ikut lomba saja memerlukan keberanian, mengalokasikan waktu, fokus, tenaga serta pikiran; apresiasilah hal tersebut.
Perihal kalah menang, juga dapat terkait jiwa sportivitas. Maka tekankan untuk jujur, berperilaku sportif, tidak curang, tidak mengakali peraturan. Dengan begitu anak siap untuk menang serta siap untuk kalah.
Dikotomi kendali juga bisa diaplikasikan kepada anak. Untuk berfokus pada apa yang dapat dilakukan, untuk memberikan yang terbaik.
Kekalahan juga dapat menjadi pembelajaran. Mana-mana yang kurang, mana-mana yang perlu diperbaiki. Analisalah bersama dengan kepala dingin, dengan begitu dapat mengambil hikmah dari kekalahan.
Mengelola emosi serta pikiran dengan mengalami kekalahan juga penting. Bagaimana orang tua melakukan pendampingan serta tidak menambah luka kecewa kekalahan anak.