Menyeriusi Ide Cerita
Arifin
Ide cerita sesungguhnya bertebaran di mana-mana. Ide bisa hadir dari pengamatan, perasaan, pemikiran, serta khayalan. Ide awal dapat hadir dari hal-hal tersebut, untuk kemudian yang perlu dilakukan yakni mengeksekusi idenya, menyeriusi ide cerita tersebut.
Ide awal dapat diupayakan di antaranya dengan tidak over-stimulated. Dengan begitu ada kepekaan terhadap ide. Ide yang bertebaran dapat ditangkap. Di samping itu perlu kiranya untuk mencatat ide yang ada. Ide terkadang membutuhkan waktu untuk kemudian menemukan momentumnya untuk mentas.

Ide hadir dalam sebaris pertanyaan, pernyataan. Lalu mengeksekusi, menyeriusinya, dengan mengurai ide awal tersebut lebih lanjut. Cara yang dapat ditempuh untuk menyeriusi ide yakni dengan melakukan riset. Berpeganglah bahwa perlu riset yang mumpuni untuk cerita, jangan membuat cerita asal-asalan, serta asumsikan penikmat cerita pintar.
Perlu diketahui dalam storytelling terdapat suspension of disbelief, batas logika bisa ‘dibengkokkan’ dan diterima. Sebagai pencerita, dalam genre apa pun, selalu ada logika dasar yang harus dipenuhi. Maka di situlah peran penting riset, untuk memenuhi logika dasar tersebut.
Menyeriusi ide juga dapat diusahakan dengan memberikan tenggat. Dengan berbatas waktu maka ada target kapan pelaksanaan ide itu selesai.
Ide cerita yang berhasil dirampungkan merupakan pencapaian. Hal tersebut juga dapat memicu berdatangannya ide-ide baru. Mengapa bisa begitu? Dikarenakan ada komitmen, contoh nyata, bahwa ide awal diseriusi hingga menjadi karya.
Menyeriusi ide dengan memberikan tenggat juga sesungguhnya cara untuk membentuk pola kerja. Bagaimana menggunakan waktu yang ada secara optimal. Misalnya, melakukan riset, pemetaan cerita, mengerjakan cerita, melakukan revisi. Tahapan-tahapan tersebut direncanakan dalam skala waktu tertentu. Alhasil terbentuklah ritme mengerjakan cerita.