Berkarya Sesuai Segmentasi Umur 

January 14, 2025
fakta menarik

Arifin

Tak ada kata terlalu cepat ataupun terlalu lambat untuk berkarya. Dikarenakan karya yang dibuat dapat menemui segmentasinya. Di antaranya yakni segmentasi umur. Contohnya dapat ditemui pada buku. Terdapat buku anak yang memang ditulis oleh anak. Memang terdapat editor, serta sejumlah pihak yang turut membantu, namun ide segar dari anak, dapat menawarkan keresahan anak-anak serta bagaimana solusi dari mereka sendiri.

Pun ketika telah berada di usia emas, berkaryalah. Mengemas keresahan di fase umur tersebut dapat menemukan ketersambungan dengan mereka yang berada di segmen umur sepadan.

Berkaryalah di umur berapa pun Anda kini. Karena Anda tidak sendirian berada di titik umur tersebut. Sesungguhnya ada orang-orang lain pula yang merasakan keresahan, permasalahan yang setipe dengan Anda. Maka jadikan itu sebagai kesempatan untuk berkarya.

Adakah Anda memiliki kreator favorit di mana Anda tumbuh kembang bersama karya mereka? Karya-karya yang dibuat mewakili keresahan ketika berada di fase-fase tertentu dalam hidup.

Sementara itu, bagaimana kiranya bila ingin berkarya, namun telah tidak berada di fase umur tertentu? Berbagai cara dapat ditempuh. Di antaranya dengan membongkar jurnal harian dari diri. Hal itu ditempuh penulis Ahmad Fuadi ketika ingin menuliskan novel Negeri 5 Menara. Ia menelaah catatan-catatan lawas ketika dirinya masih menjadi santri di pondok pesantren dahulu.

Berkarya di umur berapa pun juga dapat membantu pembuatan karya untuk masa depan. Hal itu di antaranya ditunjukkan pada novel Rapijali yang telah melalui lebih dari dua dekade, barulah rampung terwujudkan. Rapijali merupakan manuskrip tertua dari penulis Dewi Lestari yang sudah ia tulis sejak lulus SMA, namun sempat tertunda hingga 27 tahun lamanya.

Karya Rapijali akhirnya muncul di tahun 2021 setelah melalui sejumlah penyesuaian dan pembongkaran dari naskah tulisan Dee ketika berumur 17 tahun saat baru lulus SMA di tahun 1993.

Ada yang diubah karena mengikuti perkembangan zaman saat ini. Dee mengatakan seperti membuat kembali dunia Ping yang berbeda, agar lebih relevan dengan sekarang. Hal-hal yang baru masuk seperti media sosial, ponsel, dan ajang bakat televisi, itu semua tidak tersirat dalam naskah aslinya yang berlatar tahun ’90-an.

Lantas bagaimanakah cara Dee untuk menangkap keresahan anak SMA era sekarang? Ia meminta bantuan anaknya untuk membaca naskah novelnya tersebut. Anak Dee saat itu berada di usia SMA (rentang usia yang sama dengan karakter Ping beserta rekan satu band-nya). Masukan dari anaknya tersebut turut membantu mulusnya cerita serta klop untuk menggambarkan kegalauan generasi muda era kini.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd