Mainan Yang Berkemas
Arifin

Waktu dengan segera berkemas
Anak yang ku kenali itu telah tumbuh bertambah umur
Anak itu akan berpindah kota, menjadi mahasiswa
Sementara itu, di rumah ini, teman-teman yang begitu akrab ku kenali: sesama mainan
Kami datang dengan periode waktu yang berbeda
Tren, musim, membawa serta siapa-siapa mainan yang bergabug
Dinosaurus, tank, tentara, monster-monster, karakter superhero, hewan-hewan, kereta, dan lain-lain, dan sebagainya
Waktu dengan segera berkemas
Aku masih mengingat dengan lekat,
Ruang kamar yang berantakan, acak-acakan
Suara dari mulutnya
Imajinasi yang diturutsertakan bersama kami
Aku masih ingat tawa terbahak-bahaknya
Matanya kala berimajinasi
Seperti bayang-bayang yang dibentuk oleh tinggi matahari
Aku tahu akan tiba waktunya
Kami, para mainan, akan berpisah dengan pemiliknya
Orang-orang tumbuh, membesar, menua
Beberapa mainan telah tak dimainkan lagi
Bertumpuk berdesak-desak di ruang berdebu kurang cahaya
Seperti bayang-bayang yang dibentuk oleh tinggi matahari
Kalau sampai waktu kami,
Kami perlu berlepas dari segala kemelekatan
Satu hari sebelum keberangkatannya ke kota yang sering diterpa hujan
Anak itu, ah bukan anak-anak lagi, pemuda itu berkunjung menemui kami-kami, para mainan
Ia tertawa terbahak-bahak
Matanya berimajinasi
Matanya seperti menelusuri lapis-lapis waktu dari masa lalu
Matanya basah
Suaranya tercekat
Anak yang kini jadi pemuda itu pamit pada kami-kami ini
Ia berterima kasih dengan saat-saat membahagiakan itu, bersama kami
Memori bahagia
Memori hangat
Anak yang kini jadi pemuda itu mengutip petikan puisi: Yang fana adalah waktu, kita abadi
Hari itu adalah hari perpisahan:
dengan tuan kami selama ini
dengan rekan-rekan sesama mainan
kami berpencar ke tempat-tempat di mana anak-anak membutuhkan cerita dan imajinasi