Menyapa Secara Personal
Arifin
Kita kini berada di era obesitas informasi. Berbagai informasi lalu lalang, baik diminta ataupun tidak (datang sendiri).
Kita juga hidup di era yang memudahkan untuk salin tempel (copy paste) berbagai pesan, ucapan.
Menarik adanya ketika saya membaca tulisan dari wikipediawan Ivan Lanin. Ia mengistilahkan silaturahmi sekali setahun dengan mengucapkan pesan teks ucapan selamat ulang tahun kepada para kenalannya secara pribadi.

“Saya benci ucapan selamat yang berbentuk templat. Oleh sebab itu, saya selalu berusaha menyesuaikan pesan dengan orang yang dituju. Penyesuaian itu menyebabkan saya berusaha mengingat-ingat detail pribadi yang saya ketahui tentang orang itu, seperti apa pekerjaannya, siapa orang yang kami kenal bersama, dan bagaimana kami berkenalan,” demikian jelas Ivan Lanin.
Ketidaksukaan pada ucapan selamat yang berbentuk templat juga terdapat pada budayawan Sujiwo Tejo. Ia enggan membalas broadcast permohonan maaf lahir batin yang biasanya tersebar di hari lebaran. Sujiwo Tejo hanya membalas pesan yang dikirim secara personal kepadanya.
“Aku enggak membalas broadcast maaf lahir batin. Aku hanya membalas maaf lahir batin yang personal, yang menyebut nama tertuju, yang orangnya mau sedikit capek menulis nama tertuju, yang ada ‘touch’,” tulis Sujiwo Tejo di Twitter pada Kamis, 13 Mei 2021.
Menyapa secara personal memang lebih memakan waktu. Menata kata, mengingat-ingat detail pribadi, namun perlu pula dipertimbangkan untuk dilakukan. Hal tersebut dapat lebih mengena, personal, serta dapat menjadi cara menjaga silaturahmi. Menyapa secara personal menunjukkan effort, Anda sedia meluangkan waktu, serta lebih potensial untuk dilirik serta dibalas di tengah timbunan broadcast, maupun kata-kata template.