Tips Riset Untuk Kebutuhan Cerita
Arifin
Terdapat sebuah ungkapan yang menarik sebagai berikut:Fiksi yang berhasil ketika dibaca akan terasa seperti nonfiksi, dan nonfiksi yang berhasil ketika dibaca akan terasa seperti fiksi. Melenturkan batas antara fiksi dan fakta.
Salah satu kunci untuk melakukannya yakni riset yang sesuai untuk kebutuhan cerita. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam riset untuk cerita? Ketahui peta ceritanya lalu lakukan riset yang mendukung. Dengan begitu memungkinkan hemat secara waktu serta riset terfokus.

Kemampuan bercerita juga dapat menjadi cara agar riset “masuk” dengan natural. Pilah pilih data yang ingin dimasukkan dalam cerita, sehingga tidak seperti menjejali dengan data, fakta, serta seperti pamer pengetahuan.
Agar data riset “masuk” dengan natural bisa dengan menempatkannya pada dialog, ataupun sebagai pemikiran karakter
Tips selanjutnya yakni bersiap membuang data. Tidak semua hasil riset akan terpakai. Penulis Dee Lestari mencontohkan pada Supernova Partikel.
“Informasi teknis tentang fungi totalnya mungkin sekitar empat sampai lima halaman, tapi untuk menuliskannya saya membaca lebih dari empat buku tentang fungi yang tebal masing-masing bukunya sekitar 300 halaman. Apakah sia-sia? Tidak juga. Penguasaan kita terhadap sebuah materi akan mendorong kepercayaan diri dan kenyamanan kita saat menulis, meskipun yang terkomunikasikan ke pembaca hanya sekelumit,” jelas Dee dalam blognya.
Lalu, bagaimana dengan metode – terdapat observasi langsung, wawancara, riset internet, atau riset pustaka – yang mana yang harus dipilih? Kesemua metode itu baik dan semuanya boleh dilakukan bila memang mampu dan memungkinkan. Yang penting bukanlah berapa banyak data kita serap, tapi memilah mana yang relevan serta bagaimana mengekskusinya agar klop dalam cerita.