Menangislah Bila Harus Menangis
Arifin
Manusia memiliki ragam emosi. Kesemuanya valid. Kesemuanya dapat dirasakan serta diekspresikan.
Selepas membaca cerita pendek “Asam Garam” dari buku “Tanpa Rencana” seolah mengukuhkan “perayaan” ragam emosi. Seperti bagian dialog bernasnya berikut:

“Leluhur Bapa Elias mencari sesuatu yang hilang dari hidup mereka. Mereka punya pahit dari dedaunan. Mereka punya manis dari ubi. Mereka punya asam dari buah-buah di gunung. Tapi, ada yang belum lengkap, Gaspar. Rasa asin.” Mata Pak Rian tampak berkaca-kaca. “Air mata adalah rasa asin yang sudah dipersiapkan untuk melengkapi kita. Jangan anak tirikan kesedihanmu. Garam-mu. Ia menggenapi.”
Perihal duka, kesedihan, menangis, juga dengan tepat diungkapkan pada lirik lagu “Air Mata” dari Dewa 19:
Menangislah bila harus menangis
Karena kita semua manusia
Kesedihan bisa jadi berusaha “diremehkan”, “disingkirkan”, tak perlu timbul. Menangis diidentikkan sebagai kegiatan yang tak perlu. Padahal kesedihan merupakan bagian dari emosi, perasaan – yang berhak untuk dirasakan, diekspresikan. Menangis juga dapat menghadirkan kelegaan setelahnya.
Hal tersebut bahkan dapat terus berlanjut karena pola pengasuhan yang mencoba “menjinakkan” tangis. Begitu menangis diberi “gula-gula”, dilabeli cengeng, diancam, serta berbagai hal-hal yang tidak memvalidasi kesedihan dan tangisan.
Emosi itu bukan ditahan, tapi diatur. Ayah-bunda untuk anak dapat mengupayakan agar tangis anak tidak berlebihan sampai meraung-raung. Menangis juga dapat mnenjadi kanal bagi anak untuk menyuarakan emosinya – sesuatu yang boleh dirasakan anak sendiri, dikenali.