Melancong Melenceng

March 20, 2025
Puisi

Arifin

Di ruang tunggu orang-orang menunggu

Kereta yang akan membawa mereka ke suatu

Ke sesuatu

Ke tujuan

Menuju harapan

            Ini ruang tunggu yang ke sekian

            Dan aku hanya ingin bergerak dan bergerak

            Menapaki kilometer

            Melelahkan diri

            Berharap akhirnya ada jawab-jawab akan tanya di kepala

Tak semua orang punya kesempatan sepertiku

Mempertanyakan hal-hal di kepala yang mengganjal, sembari berkelana dan berkelana

Peron-peron yang seolah tanpa ujung

Stasiun yang sekadar menjadi persinggahan, sebelum perjalanan berikutnya

            Tiket ke tujuan mana yang ku pilih?

            Melancong melenceng

            Dan pemandangan yang silih berganti ku temui dari balik jendela

            Orang-orang

            Aroma-aroma

            Suara-suara perbincangan

            Dengkur

            Mata-mata menerawang, dalam bengong

            Bosan bersama waktu

Temanku bilang aku keluyuran terus

Ada yang bilang, bak balon yang terlepas di angkasa luas

            Apakah aku tersesat?

            Bukankah aku selalu bergerak dan punya “tujuan” pada tiket kereta

Aku bertanya kepada kalian yang menapaki siklus itu-itu lagi, bak hamster yang berlari di atas roda putar

Pernahkah kalian mempertanyakan mengapa perlu berputar seperti itu? Apa jadinya tanpa rutinitas tersebut?

            Kereta api jarang menyediakan kopi enak

            Namun, aku suka teh mereka

            Diseduh dalam suhu air yang dapat melepuhkan lidah

            Panas teh mereka bisa bertahan lama dalam perjalanan

Ditemani teh, aku bercakap-cakap di kepala

Tentang ruang tunggu, perjalanan, tujuan, tersesat

Jangan-jangan ini bukan tentang kereta api

Tapi tentang dunia yang ku huni & ku jalani

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd