Melancong Melenceng
Arifin
Di ruang tunggu orang-orang menunggu
Kereta yang akan membawa mereka ke suatu
Ke sesuatu
Ke tujuan
Menuju harapan
Ini ruang tunggu yang ke sekian
Dan aku hanya ingin bergerak dan bergerak
Menapaki kilometer
Melelahkan diri
Berharap akhirnya ada jawab-jawab akan tanya di kepala

Tak semua orang punya kesempatan sepertiku
Mempertanyakan hal-hal di kepala yang mengganjal, sembari berkelana dan berkelana
Peron-peron yang seolah tanpa ujung
Stasiun yang sekadar menjadi persinggahan, sebelum perjalanan berikutnya
Tiket ke tujuan mana yang ku pilih?
Melancong melenceng
Dan pemandangan yang silih berganti ku temui dari balik jendela
Orang-orang
Aroma-aroma
Suara-suara perbincangan
Dengkur
Mata-mata menerawang, dalam bengong
Bosan bersama waktu
Temanku bilang aku keluyuran terus
Ada yang bilang, bak balon yang terlepas di angkasa luas
Apakah aku tersesat?
Bukankah aku selalu bergerak dan punya “tujuan” pada tiket kereta
Aku bertanya kepada kalian yang menapaki siklus itu-itu lagi, bak hamster yang berlari di atas roda putar
Pernahkah kalian mempertanyakan mengapa perlu berputar seperti itu? Apa jadinya tanpa rutinitas tersebut?
Kereta api jarang menyediakan kopi enak
Namun, aku suka teh mereka
Diseduh dalam suhu air yang dapat melepuhkan lidah
Panas teh mereka bisa bertahan lama dalam perjalanan
Ditemani teh, aku bercakap-cakap di kepala
Tentang ruang tunggu, perjalanan, tujuan, tersesat
Jangan-jangan ini bukan tentang kereta api
Tapi tentang dunia yang ku huni & ku jalani