Salah Tak Mengapa

April 2, 2025
Famili

Arifin

Adakah anak Anda ingin selalu benar dan tidak lapang dada menerima ketika salah? Bila ya, ayah-bunda perlu melihat dari berbagai aspek. Di antaranya bagaimana memperlakukan anak. Anak perlu diajarkan bahwa salah tak mengapa, salah bagian dari kehidupan.

Bisa jadi karena rasa sayang, menimbulkan miskonsepsi bahwa anak selalu dibenarkan, anak selalu dimaklumi. Bahkan ketika anak memang melakukan kesalahan, kekeliruan. Dengan miskonsepsi dari orang tua tersebut, anak jadinya merasa selalu benar, benar, benar. Anak tak dapat secara jernih menangkap pesan bila ia salah, termasuk dengan konsekuensinya jika salah.

Anak juga perlu dibiasakan untuk meminta maaf bila berucap salah, bertindak salah. Tentunya dengan mula-mula memahami bahwa dirinya salah, keliru. Dalam hal ini, orang tua perlu menjadi teladan. Baik ketika berinteraksi dengan orang sekitar serta bersama anak. Tunjukkan dalam perkataan, perrbuatan dari ayah-bunda yang tak segan meminta maaf bila salah, jika keliru.

Di samping itu, menyikapi salah dengan tepat merupakan bagian dari kehidupan. Bila anak selalu merasa benar, maka itu merupakan “pembekalan yang keliru” ketika bersosialisasi, berinteraksi secara sosial. Anak akan merasa sebagai “pusat dunia”, memiliki egoisme tingkat tinggi, serta hanya ingin maunya yang dituruti.

Mengapa anak cenderung resisten ketika salah? Hal tersebut juga dapat dilacak dari penyikapan terhadap kesalahan anak. Sudahkah reaksi yang diberikan cukup proporsional dengan kesalahan yang dibuat? Bila responsnya berlebihan, maka anak mencerna selaiknya tidak melakukan kesalahan, karena konsekuensi yang dialami begitu membekas bagi anak.

Orang tua dapat menjaga harga diri anak ketika buah hati salah. Misalnya menasihati, memberikan saran ketika bersama dengan anak. Di samping itu, tidak mempermalukan anak di hadapan orang banyak.

Proporsional dalam mencerna kesalahan juga merupakan pembelajaran untuk berani mencoba, berani bertindak. Dengan anak terbiasa melihat kesalahan sebagai risiko, konsekuensi, maka anak  mengetahui itu bagian dari kehidupan. Yang dapat dilakukan yakni melakukan mitigasi, belajar dari kesalahan yang dibuat.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd