Mengenali “Post Holiday Blues” Setelah Liburan 

April 4, 2025
fakta menarik

Arifin

Kembali ke rutinitas setelah liburan dalam istilah populer psikologi dikenal dengan post holiday blues, di mana terdapat perbedaan signifikan antara kebebasan ketika liburan dan tuntutan dalam rutinitas sehari-hari.

Meskipun banyak orang berharap bahwa liburan bisa meningkatkan kebahagiaan dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan bahwa efek positif dari liburan tidak bertahan lama setelah seseorang kembali ke rutinitasnya.

Setelah menikmati liburan yang menyenangkan, banyak orang mengalami post-holiday blues, yakni perasaan malas, kurang bersemangat, atau bahkan stres saat harus kembali ke rutinitas kerja atau sekolah. Ini wajar terjadi karena adanya kesenjangan besar antara suasana liburan yang bebas dengan rutinitas yang penuh tanggung jawab.

Liburan memiliki sejumlah efek positif seperti destinasi liburan yang telah dinanti lama akan meningkatkan suasana hati yang positif. Selain itu, liburan juga dapat bermakna besar bagi seseorang karena bisa menghabiskan waktu bersama keluarga terutama bagi yang merantau.

Liburan biasanya penuh dengan kebebasan, eksplorasi dan fleksibilitas, berbeda dengan rutinitas yang terstruktur dan ada tanggung jawab.

Munculnya post holiday blues atau rasa malas kembali ke rutinitas setelah liburan karena adanya perbedaan drastis dari waktu senggang ketika liburan ke jadwal ketat dan tuntutan pekerjaan dan rasa sepi setelah pulang dari kampung halaman.

Liburan sering kali memberikan excitement tinggi, terutama bila itu adalah perjalanan impian atau momen berkumpul dengan keluarga yang jarang ditemui. Setelah kembali, terjadi gap emosional yang besar, sehingga muncul perasaan kosong atau kehilangan.

Kelelahan fisik karena perjalanan jauh atau perubahan zona waktu dan tumpukan pekerjaan yang telah menunggu juga bisa menjadi salah satu faktor post holiday blues.

Meskipun bersifat sementara dan membaik dalam beberapa hari, dalam beberapa kasus, hal ini dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi, kecemasan, atau burnout.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan yakni kesulitan berkonsentrasi yang berkepanjangan, perasaan cemas atau sedih yang tidak kunjung membaik, gangguan tidur dan perubahan pola makan yang ekstrem, dan kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari.

Bila gejala di atas berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, membuat sulit bekerja, belajar, atau berinteraksi dengan orang lain, maka amat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental seperti psikolog.

Sumber: Antara

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd