Belajar “Parenting” Dari Film “Jumbo”
Arifin
Film animasi Jumbo mampu menyentuh berbagai lapis usia. Tak hanya anak-anak, melainkan para ayah-ibu pun dapat turut hanyut dalam cerita serta menjadi sejumlah poin renungan.
Dalam filmnya dikisahkan Don sejak kecil menjadi yatim piatu. Ayah, ibunya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Pada poin tersebut, para orang tua dapat merenungkan tentang kemungkinan hal serupa pun terjadi.
Lalu, apa yang dapat dilakukan ayah, bunda? Perihal maut memang rahasia Ilahi, namun manusia dapat mengupayakan apa yang dirinya bisa, seperti sebisa mungkin menjaga kesehatan. Maka perhatikan makanan, minuman yang dikonsumsi, telah cukupkah berolahraga, serta sejumlah faktor yang dapat menjadi elemen penunjang kesehatan. Sehat, yang tak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk membersamai anak.

Film berdurasi 102 menit tersebut juga memantik kesadaran bahwa upaya parenting yang dilakukan, di antaranya untuk menyiapkan anak mandiri, serta menghadapi dunia di mana ada kemungkinan telah tak ada orang tua di sisi.
Dalam film Jumbo diceritakan Don tumbuh dengan kenangan hangat tentang kebersamaan bersama orang tuanya. Di samping itu, Don memiliki buku kesayangan yakni buku dongeng spesial karya ayah, ibunya.
Melihat poin tersebut pada film Jumbo juga dapat menjadi perenungan bagi orang tua. Telahkah membersamai anak secara optimal dan berkualitas? Membersamai anak dapat menjadi core memory, kenangan, serta dibutuhkan anak. Berbagai momen pun dapat menjadi saat membersamai anak, seperti ketika ananda akan tidur di waktu malam, saat membacakan dongeng, dan sebagainya.
Dari film Jumbo juga dapat teringat dengan pepatah Afrika “Dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak”. Anak, tak sekadar buah pembelajaran dari keluarga inti, melainkan juga ada peran sekolah dan masyarakat.
Don misalnya, yang mendapatkan asuhan dari Oma, berinteraksi dengan teman-teman sebaya dalam zonasi tempat tinggalnya di Kampung Seruni, serta terkait pula dengan masyarakat. Ayah, bunda perlu pula menimbang tentang unsur sekolah dan masyarakat, yang turut membentuk karakter dan pola pikir anak.
Pengaruh memengaruhi dari keluarga, sekolah, masyarakat – perlu ditata demi tumbuh kembang anak, serta olah raga, olah pikir, olah rasa, olah hati yang optimal bagi anak.