Menertawakan Hal Yang Semula Menakutkan
Arifin
Cerita Harry Potter merupakan kisah lintas generasi. Kemungkinan akan kian panjang generasi yang terinspirasi, terpengaruh dari buah karya J.K. Rowling, seiring akan dibuatnya serial tv Harry Potter.
Salah satu inspirasi dari kisah Harry Potter menurut hemat saya, terkait lemari yang berisi Boggart dalam pelajaran yang diasuh Profesor Remus Lupin. Boggart merupakan makhluk yang bentuknya mengikuti ketakutan terdalam kita.

Neville Longbottom selalu ketakutan setiap melihat Profesor Snape, maka Boggart berubah wujud menjadi Snape. Harry Potter takut terhadap dementor, maka Boggart pun memilih wujud dementor saat bertemu Harry. Hal yang demikian pun terjadi pada Ron Weasley yang takut dengan laba-laba, Profesor Dumbledore yang takut melihat bayangan mayat saudaranya Ariana Dumbledore, ataupun Profesor Lupin yang takut dengan bulan.
Hal tersebut menunjukkan bagaimana tiap orang memiliki ketakutannya masing-masing. Dalam kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Lupin mengajarkan metode untuk menghadapi ketakutan masing-masing itu. Caranya, dengan membayangkan sesuatu yang lucu dari apa yang ditakutkan itu. Neville misalnya, menjadikan ketakutannya yakni Snape menjadi berbusana bak neneknya.
Lalu, apa kabarnya dengan ketakutan dari kita? Ketakutan dapat sifatnya personal, serta berakar dari masa lalu. Apa yang ditakuti seseorang, belum tentu menakutkan bagi orang lain, pun dengan sebaliknya.
Ketakutan yang ada juga dapat tak terlalu jelas, maka perlu kira-kira untuk melakukan identifikasi. Mencoba mencari tahu ketakutan yang sebenarnya. Dengan mengidentifikasi merupakan langkah untuk mencoba mencari solusi terhadap ketakutan itu.
Ketakutan, juga dapat berakar dari asumsi yang keliru. Asumsi yang keliru bisa menumbuhkan rasa takut, bahkan tanpa pernah mencobanya.
Lantas, bagaimanakah cara menghadapi ketakutan? Memiliki support system bisa menjadi cara. Pada segmen kisah Harry Potter di kelas, Profesor Lupin serta para rekan sekelas menyemangati sesama temannya dalam menghadapi ketakutan yang ada. Support system yang dapat mendampingi, menyemangati, meluruskan asumsi yang keliru, bisa menjadi cara ampuh untuk menghadapi ketakutan yang ada.
Manusia di sepanjang hidupnya akan menghadapi ketakutan demi ketakutan. Maka perlu kiranya untuk melatih, membiasakan diri, untuk menghadapi ketakutan yang ada. Salah satunya dengan berusaha melakukan yang terbaik pada hal yang masih berada dalam rentang kendali diri.
Manusia di sepanjang hidupnya akan menghadapi ketakutan demi ketakutan – memiliki rekam jejak tentang ketakutan yang pernah dilewati dapat menjadi penyemangat. Cobalah ingat-ingat ketakutan yang pernah Anda hadapi di masa lalu, serta berhasil dilewati. Bisa jadi mengingat momen itu, ada tawa yang hadir dalam diri, mengingat perasaan takut yang pernah ada, yang bisa jadi sesungguhnya tak serumit asumsi kita. Ketika dikerjakan dengan sungguh, dengan baik, ketakutan itu bisa diarungi.