Banyak Referensi, Tapi Orisinal
Arifin
Dalam berkarya, hendaknya seseorang memiliki referensi yang luas. Maka luaskan spektrum mengonsumsi karya. Ketika berjalur di ranah musik, dengarkan musik banyak-banyak. Ketika berkiprah sebagai penulis, baca buku banyak-banyak. Ketika berkiprah sebagai sutradara film, tontonlah film dengan jumlah yang banyak. Daya konsumsi berpengaruh terhadap apa yang dihasilkan.

Seluas serta sebanyak mungkin memiliki referensi, memungkinkan seseorang tahu bagaimana cara menuturkan pesan, kisah. Dari banyaknya referensi tersebut, tentu ada yang dirasa pas dengan preferensi diri, ada yang tidak. Teruslah memperkaya referensi, karena itu turut membentuk karya yang Anda buat.
Memiliki banyak referensi memungkinkan kreator untuk tahu elemen apa yang sebaiknya ada dalam cerita. Salah satu elemen universal yang ada dalam berbagai karya yakni tentang keluarga.
Memiliki banyak referensi juga memungkinkan untuk mengetahui jenis genre tertentu maka karyanya adalah apa saja. Hal tersebut membuat Anda dapat mengambil elemen yang dirasa menarik dari karya serupa, serta menghadirkan kebaruan ataupun sisi yang belum pernah diulas pada karya-karya setipe.
Di samping itu, hadirlah dengan orisinalitas gaya Anda, kekhasan gaya Anda, menuangkan keresahan Anda. Dengan memadukan banyak referensi dalam mengonsumsi serta menghadirkan orisinalitas karya Anda, maka publik, akan menemui sesuatu yang sepertinya telah dikenalnya, tapi berbeda.
Memiliki banyak referensi serta orisinalitas memang perlu dihadirkan dalam takaran yang pas. Jangan sampai karya kita bak hanya tambal sulam dari referensi-referensi yang pernah dikonsumsi. Maka karya kita bak tiruan dari karya-karya sebelumnya, dengan benderang terlihat.
Di samping itu dengan memiliki ragam referensi memungkinkan untuk mengetahui bagaimana cara menyampaikan pesan yang dapat dimengerti oleh orang lain. Kiranya bila terlalu personal, namun tidak begitu dimengerti orang lain, maka tidak menjadi karya inklusif, yang bisa diakses orang banyak.