Buku Sebagai Solusi Keseharian
Arifin
Hari Buku Sedunia diperingati setiap 23 April. Masih dalam semangat perayaannya, telahkah Anda menjadikan buku sebagai solusi keseharian?
Maka inventarisasi masalah apa saja yang Anda temui, lalu cobalah temui jawabannya melalui medium buku. Sebut saja terkait karier profesional Anda, adakah buku yang membahas secara tematik tentang pekerjaan Anda ataupun segi-segi yang ingin dikembangkan dari profesi yang Anda geluti.

Buku sebagai solusi dari masalah, juga dapat diterapkan pada parenting. Menjadi orang tua memerlukan banyak ilmu. Maka buku dapat menjadi cara untuk menimba ilmu, pengalaman, praktik baik, dan sebagainya.
Buku yang dibacakan secara nyaring, tak hanya membangun kebersamaan dengan anak, mendekatkan literasi sejak dini, namun juga dapat menjadi solusi dari masalah yang dihadapi anak. Inventarisasi hal apa yang perlu dilengkapi dari anak, seperti misalnya karakter-karakter dasar yang baik, toilet training, berani unjuk bakat, dan sebagainya.
Memiliki buku yang mendampingi ragam masalah anak tersebut, maka mereka tahu tidak sendiri, serta terdapat kisah, serta tips singkat yang diberikan. Di samping itu, bisa jadi dari koleksi buku yang ada dapat digunakan sesuai konteks yang diperlukan. Ambil contoh, ketika anak kami akan tampil membacakan puisi pada Hari Kartini, maka teringatlah pada buku yang pernah kami bacakan, tentang seorang anak yang membacakan puisi di depan kelas, serta pada buku lainnya yang menceritakan persiapan sebelum tampil – seperti menyiapkan suara secara lantang.
Buku sebagai solusi keseharian, melalui buku kita dapat belajar tentang manusia lainnya. Seperti kutipan dari buku The Cat Who Saved Books berikut, “Buku penuh dengan pikiran dan perasaan manusia. Orang-orang yang menderita, orang-orang yang sedih atau senang tertawa gembira. Dengan membaca kata-kata dan cerita mereka, dengan mengalaminya bersama, kita belajar tentang hati dan pikiran orang lain.”
Begitulah, ketika mengapa begini, mengapa begitu melihat tingkah polah manusia, buku dapat menjadi cara memahami perilaku serta menjadi cara berempati akan apa-apa yang dialami oleh manusia lainnya.