Merawat Rasa Ingin Tahu
Arifin
Anak kecil lazimnya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Maka mereka pun bertanya tentang ini-itu. Rasa ingin tahu, penasaran, tersebut perlu terus dipupuk, menjadi tabiat dari anak-anak. Di antaranya dengan memerhatikan pertanyaan anak, mencoba menjawab pertanyaannya, serta menghadirkan ekosistem yang membuat mereka nyaman bertanya dan mempertanyakan.
Bagaimana dengan warga yang lebih senior, adakah rasa ingin tahu, penasaran, telah merosot sedemikiannya? Bisa jadi. Hal tersebut karena merasa telah tahu berbagai macam hal ataupun telah terlampau lelah dengan aktivitas keseharian.

Padahal, rasa ingin tahu, penasaran berkaitan erat dengan kesehatan mental dan kepuasan hidup. Mempertahankan rasa ingin tahu serta penasaran di usia lanjut membantu mencegah penurunan kognitif dan fisik.
Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk merawat rasa ingin tahu? Hal itu di antaranya dapat dilakukan dengan mencoba metode berbeda dari hal yang dikuasai. Mungkin terkait keterampilan, bidang pekerjaan Anda, maka cobalah menjajal metode yang berbeda. Menempuh jalan lainnya, bisa menghadirkan kesegaran, kebaruan.
Rasa ingin tahu juga dapat diupayakan dengan pemahaman bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui. Maka cobalah dalam percakapan, bacaan, untuk mengulik hal-hal yang belum diketahui tersebut. Penasaran terhadap hal yang belum diketahui dapat membawa diri pada pertanyaan yang sambung-menyambung.
Merawat rasa ingin tahu juga bisa dilakukan dengan menempuh rute yang berbeda dalam keseharian. Katakanlah rute pulang-pergi ke kantor, cobalah menggunakan moda transportasi yang berbeda, atau dapat pula dengan menempuh jalur yang berbeda. Dengan begitu panca indra Anda dalam keseharian terbiasa menjelajahi hal-hal yang berbeda, serta tidak monoton (itu lagi, itu lagi).
Rasa ingin tahu, serta penasaran juga dapat tetap menyala bila diwadahi dalam karya. Hal-hal yang sekiranya membuat Anda penasaran, bisa kok dituangkan menjadi karya kreatif. Dengan menjadi karya kreatif, pengetahuan awal untuk kemudian diolah lebih lanjut menjadi karya.