Mengapa Anda Suka Dengan Cerita Yang Mudah Ditebak?
Arifin
Dahulu kala, saya kerap menonton film televisi (FTV) bertema romansa dengan latar pemandangan alam. Tayang di salah satu stasiun televisi swasta pada malam hari, FTV tersebut sesungguhnya menghadirkan cerita yang mudah ditebak. Happy ending, cinta yang berhasil, menjadi template dari FTV tersebut. Bonus lainnya yakni pemandangan alam, serta nuansa budaya yang indah, menjadi rumus baku dari FTV tersebut.
Adakah Anda memiliki kegemaran yang identik semacam itu, yakni menyukai cerita yang mudah ditebak? Bila boleh menganalisa, kesukaan saya pada FTV tersebut yang tayang pada malam hari, merupakan hiburan setelah beraktivitas pagi hingga sore.

Ada pun cerita yang mudah ditebak, “menjanjikan” happy ending, kegembiraan dalam cerita. Hiburan semacam itu diperlukan, seperti memberikan “kepastian” dalam ujung cerita. Ada kalanya ketika menonton, hanya sekadar butuh hiburan, serta “kepastian” berupa happy ending merupakan hal yang menyenangkan.
Cerita yang mudah ditebak bak relaksasi serta memberikan “garansi” hiburan yang aman. Cobalah bayangkan dengan tayangan yang memiliki kerumitan, serta Anda menaruh harapan pada tontonan tersebut, bisa jadi ada perasaan kecewa dengan akhir dari cerita.
Cerita yang mudah ditebak juga praktis tak perlu “berpikir lebih”, energi serta fokus untuk mencerna cerita. Hanya cukup menikmati cerita tersebut.
Cerita yang mudah ditebak, mungkin Anda menemuinya pada film, genre tertentu, buku. Di mana terdapat kekhasan bahwa karya yang dihasilkan berakhir bahagia. Maka bila dibutuhkan serta sedang membutuhkan genre tersebut, Anda dapat melabuhkan pilihan pada cerita yang mudah ditebak.
Cerita yang dapat ditebak juga berlaku untuk film ataupun buku yang telah rampung ditonton serta dibaca. Anda telah tahu bagaimana akhirnya. Maka menontonnya untuk kali kesekian bisa terjadi karena seseorang tak perlu menerka, menebak akan dibawa ke mana kisah ini. Penonton ataupun pembaca telah tahu ujung dari kisah tersebut, serta ingin menjalaninya lagi.