Menilik Lukisan Dari Film Dan Buku

June 12, 2025
fakta menarik

Arifin

Penasaran dengan sekelumit dunia seni lukis? Sembari menonton serta membaca kisah fiksi, Anda dapat menilik selintas tentang lukisan. Sebut saja pada film Mencuri Raden Saleh dan novel Satine.

Pada film karya sutradara Angga Dwimas Sasongko, kita dibawa pada sisi lain lukisan yakni pemalsuan dan pencurian lukisan. Pemalsuan lukisan dilakukan menyerupai lukisan dari para pelukis termasyhur serta berpengaruh. Pemalsuan lukisan dilakukan, di antaranya karena motif ekonomi, di mana lukisan dijual pada kolektor seni.

Pemalsuan lukisan, melibatkan bahan-bahan yang di antaranya menilik tahun pembuatan lukisan tersebut. Tentunya pemalsuan lukisan memerlukan keterampilan dalam menyerupai lukisan aslinya.

Film Mencuri Raden Saleh juga dapat mengenalkan lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” yang prestisius. Melalui medium film, siapa tahu jadi pintu masuk untuk lebih mengenal Raden Saleh Syarif Bustaman, serta menilik lebih jauh tentang lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” yang memiliki makna mendalam

Sementara itu, pada novel Satine, adalah karakter Ash si penyuka lukisan yang mengungkap teori tujuh detik sebagai berikut:

Berapa lama seseorang harus memandangi lukisan untuk bisa mengerti maknanya? Dari pengamatan terhadap pengunjung museum, biasanya orang-orang menghabiskan rata-rata lima belas sampai tiga puluh detik di depan satu lukisan sebelum berpindah ke lukisan lain, waktu yang dinilai cukup untuk menggambarkan upaya seseorang untuk memahami. Menggambarkan usaha ya, bukan berarti cukup untuk benar-benar bisa mengerti. Dalam lingkungan dunia seni sendiri, konon ada semacam konsensus bahwa jika ada kolektor, kurator, kritikus, dan sejenisnya yang menatap lukisan di pameran atau museum sampai tujuh detik, itu tandanya karya itu pantas dilirik. Standarnya cukup tujuh detik.

Pada film Mencuri Raden Saleh, bisa jadi terpantik untuk menilik lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro”, sedangkan melalui Ash, pembaca dapat tahu cerita di balik lukisan Starry Night. Seperti diterangkan Ash sebagai berikut:

Cuma segelintir yang tahu karya elok dan menawan itu dilukis Van Gogh di Saint-Paul-de-Mausole lunatic asylum—bentuk rumah sakit jiwa waktu itu—tempat dia sukarela masuk karena merasa punya gangguan mental, dan goresan kuasnya memotret pemandangan dari jendela kamar rawat inapnya yang menghadap timur, tepat sebelum matahari terbit, satu dini hari di pengujung musim semi tahun 1889. Bintang paling besar di lukisan itu konon adalah Venus yang bisa dilihat di Provence pada masa itu setiap menjelang subuh. Bulannya juga katanya jelas terlihat dari balik jeruji jendela kamarnya, cuma bagian desanya yang berasal dari ingatannya tentang sebuah desa di Saint-Remy de-Provence.

© 2025 Amanz Media Sdn Bhd