Mari Mendengarkan Dengan Sungguh
Arifin
Hari Mendengarkan Sedunia diperingati setiap 18 Juli. Telahkah kita menjadi pendengar yang hadir sepenuhnya? Yang mendengar dengan sungguh.
Pendengar yang hadir sepenuhnya, tak sekadar mencerna apa yang dikatakan. Melainkan juga menyimak apa yang tersirat. Dengan demikian mendengar tak hanya membutuhkan telinga, melainkan juga hati serta mata yang mengamati.
Mindful listening menyertakan empati. Dengan empati itulah seseorang dapat menahan dulu komentar, tidak memotong penjelasan. Orang yang berbicara dengan kita tak berarti selalu minta solusi, bisa jadi “sesederhana” hanya perlu didengar.

Pendengar yang hadir sepenuhnya, maka bagi orang lain akan merasakan benar-benar didengarkan. Orang lain jadinya memiliki ruang untuk merasa didengar.
Pendengar yang hadir sepenuhnya juga memiliki peluang untuk menjadi teman yang baik, dicari, menyenangkan. Dikarenakan salah satu keunggulannya yakni dapat mengingat apa yang dikatakan temannya beberapa tahun yang lalu. Hal tersebut dapat terjadi karena mindful listening.
Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk menjadi pendengar yang hadir sepenuhnya? Sama seperti hal lainnya, dapat dilatih, dapat dibiasakan. Cobalah memfokuskan diri dalam mendengar. Singkirkan sejenak segala distraksi saat mendengar, terapkan fokus pada mendengar.
Mata yang menatap, telinga yang siap sedia, pikiran dan hati yang turut mencerna. Mindful listening merupakan cara melatih kepekaan. Lantas, apa saja yang dapat didengar? Anda dapat mendengar sesama, alam, serta tentu saja diri sendiri.
Melatih kepekaan dalam mendengarkan, di antaranya dengan mendengarkan suara hujan. Dengarkan elemen yang menyertai suara hujan itu, seperti angin, petir, maupun air yang jatuh ke bumi.
Melatih kepekaan dalam mendengarkan juga bisa dilakukan dalam keheningan. Pada keheningan itu, Anda dapat menelusuri suara dari diri sendiri.